AlamBantuanDuniaHiburanNasionalSosial

Jaringan Listrik Terputus Setelah Banjir Lahar Gunung Semeru — Warga Lumajang Terdampak Lebih Dalam

Dampak Langsung: Listrik Padam di Desa Jugosari

Hujan deras yang mengguyur kawasan lereng Gunung Semeru memicu aliran lahar hujan — atau dikenal sebagai “lahar dingin” — yang deras mengalir menuju sungai dan pemukiman di Kabupaten Lumajang. Salah satu dampak signifikan dari peristiwa tersebut adalah terputusnya jaringan listrik di Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro. Kabel listrik tertimbun material lahar, sehingga ratusan rumah warga kehilangan aliran listrik secara mendadak.

Menurut petugas dari ULP PLN Tempeh, sekitar malam Senin (8 Desember 2025) mereka menerima laporan mengenai kerusakan jaringan listrik akibat tertimbunnya kabel. Tim teknis kemudian dikerahkan untuk memperbaiki sistem — namun warga terpaksa menghadapi kegelapan dan gangguan listrik sembari proses pemulihan berlangsung.

Kondisi ini menambah beban warga yang sudah terdampak banjir lahar: di samping kerusakan rumah dan pemukiman, kini mereka juga menghadapi kesulitan dasar seperti penerangan, akses komunikasi, dan aktivitas sehari-hari yang terganggu.


Lebih dari Sekadar Listrik: Banjir Lahar Rendam Rumah, Isolasi Warga & Kerusakan Infrastruktur

Petugas memperbaiki jaringan listrik yang terdampak banjir lahar dingin Gunung Semeru

Peristiwa listrik terputus hanyalah puncak dari rentetan dampak banjir lahar di kawasan Kecamatan Candipuro. Beberapa hari sebelumnya, hujan deras memicu aliran lahar dingin di sungai yang membelah kawasan lereng Semeru — menyebabkan air bercampur pasir dan batu menyebar ke pemukiman, menenggelamkan rumah-rumah warga.

Di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, setidaknya 137 kepala keluarga terisolasi setelah jembatan penghubung di Sungai Regoyo tertimbun material lahar—menutup akses keluar masuk dusun. Warga tidak bisa beraktivitas, membeli kebutuhan pokok, atau mengungsi ke tempat aman.

Tak hanya itu: pembersihan dan pemulihan akses jalan serta jembatan berjalan lambat karena material pasir dan batu besar menutupi seluruh badan jembatan sepanjang sekitar 100 meter. Kondisi ini membuat dusun terisolasi total.

Menurut data terbaru dari BPBD Kabupaten Lumajang, banyak rumah terdampak — termasuk setidaknya 9 rumah di Dusun Sumberlangsep — dan 1 masjid serta 1 warung juga dilaporkan rusak atau terendam.

Warga pun terdorong untuk evakuasi mendadak: ratusan orang dilaporkan lari ke perbukitan saat aliran lahar tiba-tiba menghampiri permukiman, membawa pasir, batu, dan abu vulkanik yang membuat suasana sangat berbahaya — tak hanya karena potensi air deras, tetapi juga karena panas dan debu vulkanik.


Kronologi Bencana & Kondisi Terkini

  • Hujan deras di kawasan lereng Semeru memicu aliran lahar hujan/ dingin yang mengalir deras ke lembah dan sungai, terutama Sungai Regoyo dan aliran-aliran kecil lain.
  • Lahar membawa material vulkanik — pasir, batu, abu — sehingga debit air dan material padat naik drastis, meluap ke pemukiman dan merusak fasilitas.
  • Di Desa Jugosari, kabel listrik tertimbun material sehingga jaringan listrik terputus total.
  • Jembatan penghubung yang menjadi akses utama dilaporkan tertimbun atau rusak, menyebabkan blokade akses keluar masuk dusun, dan membuat warga terisolasi.
  • Banyak rumah dan fasilitas umum (masjid, warung) rusak atau terendam. Warga mengungsi ke perbukitan sambil menunggu bantuan.

Hingga laporan terakhir, tim dari PLN telah diterjunkan untuk memperbaiki jaringan listrik, tetapi kondisi medan berat dan risiko material lahar membuat perbaikan berjalan lambat.

Sementara pihak BPBD dan pemerintah setempat bekerja mendistribusikan bantuan dasar seperti makanan, air bersih, dan tempat penampungan sementara bagi warga yang mengungsi.


Ancaman Ganda: Bencana Alam + Krisis Logistik & Kemanusiaan

Peristiwa di Lumajang menyoroti bagaimana bencana vulkanik bisa memicu krisis multidimensi — lebih dari sekadar banjir atau erupsi. Di antaranya:

  • Pemutusan listrik — mengganggu akses dasar seperti penerangan, komunikasi, kegiatan ekonomi
    rumah tangga, dan layanan darurat.
  • Isolasi masyarakat — jembatan dan akses jalan tertimbun, membuat evakuasi, distribusi bantuan, dan mobilitas warga sangat sulit.
  • Kerusakan rumah & fasilitas umum — menimbulkan kerugian materiil besar dan mengancam keselamatan warga.
  • Pengungsian dan trauma — warga terpaksa pindah mendadak, banyak kehilangan harta benda, dan tinggal dalam kondisi darurat.
  • Keterlambatan respons — medan berat dan kondisi rawan membuat perbaikan listrik dan distribusi bantuan jadi sulit dan memakan waktu.

Upaya Penanggulangan & Pemulihan

Sejumlah petugas PLN melakukan perbaikan jaringan listrik yang diterjang awan panas Gunung Semeru.

Pihak berwenang dan komunitas lokal telah mengambil sejumlah langkah tanggap darurat:

  • Tim teknisi dari PLN diterjunkan untuk memperbaiki jaringan listrik yang rusak. Namun, proses berlangsung di medan berat dan dibantu warga setempat.
  • Pemerintah kabupaten melalui BPBD serta instansi terkait mendirikan pos penampungan dan dapur umum untuk warga yang mengungsi. Bantuan makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar diprioritaskan.
  • Petugas evakuasi dan relawan lokal melakukan pendataan korban, pendistribusian bantuan, serta memantau aliran sungai dan potensi lahar susulan — mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu dan topografi rawan.
  • Pemerintah lokal memperpanjang masa tanggap darurat dan terus berkoordinasi dengan lembaga mitigasi bencana guna antisipasi jika terjadi hujan deras kembali.

Meski upaya sudah dilakukan, proses stabilisasi akan butuh waktu — apalagi jika material lahar masih banyak tertinggal dan kondisi cuaca kembali memburuk.


Kenapa Fenomena Lahar dari Semeru Semakin Berbahaya

Beberapa faktor memperburuk dampak bencana ini:

  • Topografi dan aliran sungai — lereng curam, sungai sempit, dan banyak aliran anak sungai meningkatkan risiko lahar meluas.
  • Hujan deras & intensitas curah hujan tinggi — memicu lahar dingin, membuat volume air dan material meningkat tajam.
  • ** Pemukiman dekat sungai / jalur lahar** — banyak rumah berada di sepanjang aliran Sungai Regoyo dan jalur aliran lahar, sehingga rawan terdampak.
  • Kelemahan infrastuktur — jembatan, jalan, dan kabel listrik yang ada di jalur terdampak tidak dirancang untuk menghadapi aliran lahar besar, sehingga mudah rusak atau tertimbun.
  • Kurangnya akses evakuasi yang cepat — sehingga warga kesulitan mengungsi saat banjir datang tiba-tiba.

Kombinasi faktor alam dan manusia inilah yang membuat bencana lahar dari Gunung Semeru tidak hanya soal abu atau letusan — tetapi bencana multidimensi yang mengancam kehidupan, harta benda, dan kelangsungan masyarakat.


Implikasi & Pelajaran untuk Penanggulangan Bencana

  1. Perlu mitigasi infrastruktur lebih baik — pembangunan infrastruktur tahan bencana: jembatan, jalur distribusi listrik, saluran air, dan sistem drainase harus mempertimbangkan risiko lahar.
  2. Pemetaan zona rawan & relokasi pemukiman — area di sepanjang aliran sungai dan jalur lahar harus
    diidentifikasi, dan jika perlu, pemukiman dipindahkan ke lokasi lebih aman.
  3. Sistem peringatan dini & edukasi masyarakat — warga harus diberi informasi tentang potensi bahaya lahar dan cara evakuasi cepat saat hujan deras.
  4. Penggunaan teknologi & sumber daya cepat tanggap — seperti tim SAR, relawan, bantuan logistik, genset sementara, dan lampu darurat untuk menghadapi pemadaman listrik mendadak.
  5. Kolaborasi lintas instansi — pemerintah daerah, penyedia listrik, mitigasi bencana, dan masyarakat lokal harus bersinergi dalam pemantauan dan respons bencana.

Ratusan warga di Desa Gondoruso, Lumajang, Jawa Timur, terisolasi akibat banjir lahar Semeru yang memutus akses jalan dan merusak jembatan. Bagaimana kondisi mereka saat ini? 

Banjir lahar dari Gunung Semeru telah menunjukkan wajahnya sebagai bencana kompleks — bukan hanya erupsi atau abu vulkanik, tetapi ancaman nyata bagi pemukiman, infrastruktur, dan kehidupan warga di kaki gunung. Pemutusan listrik, isolasi warga, kerusakan rumah dan fasilitas publik hanyalah sebagian dari dampak yang terjadi.

Pemulihan butuh waktu dan kerja keras: dari perbaikan jaringan listrik, pembersihan material lahar, pemulihan akses jalan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak. Namun, yang paling mendesak adalah upaya jangka panjang: mitigasi bencana, perencanaan ulang pemukiman, dan kesiapsiagaan dini — agar tragedi serupa bisa dicegah atau dampaknya diminimalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *