AlamBantuanNasionalSosial

Jeritan Warga Aceh Tengah: Tiga Pekan Lebih Terisolasi Pascabanjir, Stok Pangan Kian Menipis

duniakreasi.id – Warga di wilayah pedalaman Kabupaten Aceh Tengah masih menghadapi kondisi darurat kemanusiaan setelah lebih dari tiga pekan terisolasi akibat banjir bandang dan tanah longsor. Hingga kini, akses utama menuju sejumlah desa belum pulih sepenuhnya, membuat warga kesulitan mendapatkan bahan pangan, obat-obatan, dan layanan dasar lainnya.

Wilayah yang terdampak parah berada di Kecamatan Linge, khususnya kawasan Wih Dusun Jamat dan desa-desa sekitarnya. Banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu memutus jalur transportasi darat dan menghancurkan infrastruktur penghubung antarwilayah. Akibatnya, ratusan warga terjebak dalam isolasi tanpa kepastian pasokan logistik yang memadai.

Akses Jalan Putus, Aktivitas Warga Lumpuh

Sejak banjir menerjang, jalur utama yang biasa digunakan warga berubah menjadi timbunan material longsor dan aliran air deras. Kendaraan tidak dapat melintas, sementara warga juga kesulitan berjalan kaki karena kondisi jalan yang rusak berat. Situasi ini membuat aktivitas ekonomi dan sosial warga lumpuh total.

Warga tidak bisa menjual hasil kebun, membeli bahan makanan, maupun mengakses fasilitas kesehatan. Kondisi ini memperparah dampak bencana, karena sebagian besar warga menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan aktivitas harian yang membutuhkan mobilitas.

Stok Pangan Menipis dan Kondisi Kesehatan Terancam

Keterisolasian yang berlangsung lama membuat stok pangan warga semakin menipis. Banyak keluarga kini hanya mengandalkan bahan makanan seadanya untuk bertahan hidup. Mereka harus mengatur konsumsi secara ketat agar persediaan bisa bertahan lebih lama.

Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok paling rentan. Keterbatasan asupan gizi mulai memengaruhi kondisi kesehatan mereka. Selain itu, stok obat-obatan hampir habis, sementara warga yang menderita penyakit kronis tidak bisa memperoleh perawatan lanjutan.

Beberapa warga mengaku harus menggunakan obat tradisional atau perban seadanya untuk menangani luka dan gangguan kesehatan ringan. Situasi ini meningkatkan risiko komplikasi kesehatan jika tidak segera mendapat penanganan medis yang layak.

Pengungsian Mandiri di Tengah Keterbatasan

Banjir bandang dan longsor merusak puluhan rumah warga. Banyak keluarga terpaksa mengungsi dan mendirikan tenda darurat secara mandiri di lokasi yang relatif aman. Mereka memanfaatkan terpal dan bahan seadanya untuk berlindung dari hujan dan cuaca dingin.

Kondisi pengungsian jauh dari kata layak. Keterbatasan air bersih dan sanitasi menjadi masalah serius. Warga harus berbagi fasilitas seadanya sambil berharap bantuan dapat segera datang secara merata dan berkelanjutan.

Warga Desak Pembukaan Akses Darurat

Warga menyuarakan harapan besar kepada pemerintah agar segera membuka kembali akses jalan menuju desa mereka. Menurut warga, pembukaan akses merupakan solusi paling mendesak agar mereka bisa kembali memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Masyarakat menegaskan bahwa mereka tidak ingin terus bergantung pada bantuan. Mereka hanya membutuhkan jalur transportasi yang bisa dilalui agar distribusi logistik berjalan lancar dan aktivitas ekonomi kembali bergerak.

Tokoh masyarakat setempat juga meminta pemerintah menjadikan pembukaan akses darat sebagai prioritas utama. Mereka menilai keterlambatan penanganan berpotensi memperburuk kondisi sosial dan kemanusiaan di wilayah tersebut.

Upaya Pemerintah Masih Menghadapi Kendala

Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan upaya penanganan bencana. Mereka menurunkan alat berat untuk membersihkan material longsor dan membuka jalur darurat. Namun, medan yang berat dan cuaca yang tidak menentu memperlambat proses tersebut.

Beberapa jalur alternatif sudah mulai bisa dilewati, tetapi belum menjangkau desa-desa yang paling terisolasi. Pemerintah juga mengirimkan bantuan logistik secara bertahap, meski jumlah dan frekuensinya belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga.

Selain tantangan medan, keterbatasan komunikasi juga menjadi hambatan. Sinyal telekomunikasi di sejumlah titik masih lemah, sehingga koordinasi bantuan tidak berjalan optimal.

Solidaritas Relawan dan Masyarakat Sipil

Di tengah keterbatasan, relawan dan komunitas kemanusiaan terus bergerak membantu warga. Mereka menyalurkan bantuan makanan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya melalui jalur yang masih bisa diakses.

Relawan juga membantu warga membangun pengungsian darurat serta memberikan pendampingan psikososial, terutama bagi anak-anak yang terdampak trauma bencana. Solidaritas ini menjadi penguat mental warga di tengah situasi sulit yang mereka hadapi.

Dampak Psikologis Tak Terhindarkan

Selain dampak fisik dan ekonomi, bencana ini juga menimbulkan tekanan psikologis bagi warga. Ketidakpastian bantuan, keterisolasian berkepanjangan, dan kehilangan tempat tinggal memicu rasa cemas dan putus asa.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya fokus pada penanganan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan kondisi mental korban bencana. Pendampingan psikologis dinilai penting untuk membantu warga bangkit dan memulai kembali kehidupan mereka.

Harapan Akan Pemulihan

Lebih dari tiga pekan setelah bencana, warga Aceh Tengah masih menanti solusi nyata. Mereka berharap akses jalan dapat segera terbuka agar distribusi bantuan menjadi lancar dan roda kehidupan kembali berputar.

Warga ingin kembali bertani, berdagang, dan menjalani kehidupan normal tanpa harus terus berada dalam kondisi darurat. Pemulihan akses transportasi menjadi kunci utama untuk mengakhiri isolasi dan mempercepat pemulihan wilayah terdampak.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak hanya soal bantuan sesaat, tetapi juga soal kecepatan pemulihan akses dan keberlanjutan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *