DuniaFinansialSosial

168 Dokter Palestina Diwisuda di Reruntuhan Al-Shifa Gaza

Duniakreasi.idGaza, 27 Desember 2025
Sebanyak 168 dokter Palestina resmi diwisuda di kompleks Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza. Upacara berlangsung di tengah bangunan yang rusak akibat perang. Meski demikian, prosesi tetap berjalan khidmat dan penuh makna.

Wisuda tersebut digelar oleh Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza. Para lulusan menerima sertifikat dari Dewan Medis Palestina. Mereka telah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan di tengah konflik berkepanjangan.

Acara ini tidak sekadar seremonial. Wisuda tersebut menjadi simbol ketahanan tenaga medis Palestina. Mereka bertahan dan tetap belajar di tengah keterbatasan ekstrem.


Pendidikan Medis di Tengah Perang

Para dokter lulusan ini menempuh pendidikan dalam kondisi yang sangat sulit. Perang telah merusak sebagian besar fasilitas kesehatan di Gaza. Al-Shifa, rumah sakit terbesar di wilayah itu, tidak luput dari kehancuran.

Selama proses pendidikan, banyak mahasiswa kedokteran harus berpindah tempat belajar. Mereka menyesuaikan diri dengan keterbatasan listrik dan alat medis. Namun, proses akademik tetap berlanjut.

Selain belajar, para mahasiswa juga langsung terjun merawat korban perang. Mereka bekerja di unit gawat darurat dan klinik darurat. Aktivitas itu dilakukan hampir setiap hari.

Kondisi tersebut membentuk dokter dengan ketahanan mental tinggi. Mereka tidak hanya belajar ilmu medis, tetapi juga nilai kemanusiaan.


Al-Shifa sebagai Lokasi Simbolik

Pemilihan Al-Shifa sebagai lokasi wisuda bukan tanpa alasan. Rumah sakit ini dahulu menjadi pusat layanan medis utama di Gaza. Kini, sebagian besar bangunannya hancur.

Reruntuhan Al-Shifa menjadi saksi kehancuran sistem kesehatan akibat perang. Namun, tempat itu juga melambangkan harapan. Wisuda di lokasi ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tetap hidup.

Panitia menata area wisuda secara sederhana. Para dokter mengenakan toga di antara puing bangunan. Pemandangan tersebut menggambarkan kontras antara kehancuran dan semangat hidup.


Penghormatan untuk Tenaga Medis Gugur

Dalam upacara tersebut, panitia menyiapkan kursi kosong. Kursi itu mewakili tenaga medis yang gugur selama perang. Beberapa di antaranya adalah dosen dan rekan sejawat para wisudawan.

Penghormatan ini dilakukan dalam suasana hening. Para peserta mengenang jasa tenaga medis yang meninggal saat bertugas. Momen tersebut menjadi bagian paling emosional dalam acara.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat banyak tenaga medis menjadi korban konflik. Mereka gugur saat menolong pasien atau menjalankan tugas kemanusiaan.


Pernyataan Kementerian Kesehatan Gaza

Perwakilan Kementerian Kesehatan Palestina menyebut wisuda ini sebagai kelulusan di tengah penderitaan. Menurutnya, para dokter lulus dari situasi yang tidak manusiawi.

Ia menegaskan bahwa perang tidak menghentikan komitmen pendidikan medis. Gaza tetap melahirkan dokter meski berada di bawah tekanan besar. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan peserta.

Pihak kementerian juga menekankan pentingnya regenerasi tenaga medis. Gaza sangat membutuhkan dokter baru. Krisis kesehatan masih terus berlangsung hingga saat ini.


Suara dari Para Wisudawan

Salah satu dokter lulusan menyampaikan rasa bangga dan haru. Ia mengatakan bahwa kelulusan ini adalah kemenangan moral. Menurutnya, pendidikan adalah bentuk perlawanan terhadap kehancuran.

Dokter lainnya menyebut bahwa toga yang mereka kenakan memiliki makna khusus. Toga itu melambangkan pengabdian, bukan kemewahan. Mereka berjanji akan terus melayani masyarakat Gaza.

Para lulusan juga menyadari tanggung jawab besar di depan mata. Mereka akan langsung bertugas di fasilitas kesehatan yang tersisa. Tantangan berat sudah menanti.


Krisis Kesehatan yang Masih Berlangsung

Sistem kesehatan Gaza masih berada dalam kondisi darurat. Banyak rumah sakit tidak berfungsi optimal. Pasokan obat dan peralatan medis sangat terbatas.

Tenaga medis yang tersisa bekerja tanpa henti. Mereka menghadapi jumlah pasien yang terus bertambah. Sebagian besar pasien adalah korban perang dan warga sipil.

Organisasi internasional telah menyuarakan keprihatinan. Mereka menilai situasi kesehatan di Gaza sangat kritis. Dukungan global masih sangat dibutuhkan.


Pendidikan sebagai Bentuk Ketahanan

Wisuda ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti karena perang. Justru, pendidikan menjadi alat bertahan. Para dokter membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa dihancurkan.

Mereka memilih belajar di tengah ancaman. Mereka memilih melayani di tengah keterbatasan. Sikap ini mencerminkan kekuatan komunitas medis Palestina.

Upacara wisuda ini juga mengirim pesan ke dunia. Gaza tidak hanya tentang kehancuran. Gaza juga tentang ketekunan dan harapan.


Harapan untuk Masa Depan Gaza

Para dokter lulusan berharap dapat berkontribusi dalam pemulihan kesehatan Gaza. Mereka ingin membangun kembali sistem medis yang hancur. Meski jalan panjang, mereka tetap optimistis.

Wisuda ini menjadi awal perjalanan profesional mereka. Mereka akan bekerja di garis depan kemanusiaan. Komitmen itu lahir dari pengalaman pahit selama perang.

Di tengah reruntuhan Al-Shifa, harapan tetap tumbuh. Sebanyak 168 dokter berdiri sebagai simbol kehidupan. Mereka menjadi bukti bahwa kemanusiaan tidak pernah benar-benar runtuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *