Update BNPB : Korban Tewas Banjir Sumatera Bertambah Jadi 1.138 Jiwa
Duniakreasi.id – JAKARTA โ Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali mencatat peningkatan jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor hebat yang melanda wilayah Sumatera. Hingga Sabtu, 27 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 1.138 orang. Data terbaru ini menunjukkan adanya penambahan dari laporan sebelumnya.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan angka tersebut saat konferensi pers daring. Ia juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga korban atas musibah yang terjadi.
Gambaran Umum Bencana: Luas dan Menghancurkan
Bencana ini merupakan dampak dari curah hujan luar biasa yang terjadi akibat sistem cuaca ekstrem di akhir 2025, mengakibatkan banjir bandang dan tanah longsor merusak banyak wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Peristiwa itu tidak hanya menelan banyak jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan besar pada rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur penting seperti jembatan serta jalan utama yang menghubungkan permukiman.
Wilayah Sumatera dikenal rentan terhadap bencana banjir dan longsor terutama saat musim hujan puncak, tetapi gelombang bencana yang terjadi tahun ini termasuk salah satu yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Ini telah menguji kemampuan respon darurat pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana di tingkat nasional maupun daerah.
Rincian Jumlah Korban Menurut Provinsi
Data BNPB menunjukkan distribusi korban tewas dan hilang di tiga provinsi terdampak:
๐ Aceh
- Korban tewas: 511 orang
- Korban hilang: 31 orang
- Warga mengungsi: 429.557 jiwa
Aceh menjadi provinsi dengan jumlah korban jiwa terbanyak akibat aliran deras banjir dan longsor yang merusak permukiman serta lereng bukit di berbagai kabupaten.
๐ Sumatera Utara
- Korban tewas: 365 orang
- Korban hilang: 60 orang
- Warga mengungsi: 10.354 jiwa
Daerah ini juga mencatat jumlah korban signifikan. Banjir bandang di beberapa titik di Sumut membuat tim SAR dan relawan bekerja ekstra keras.
๐ Sumatera Barat
- Korban tewas: 262 orang
- Korban hilang: 72 orang
- Warga mengungsi: 9.935 jiwa
Sumbar turut merasakan dampak besar bencana ini, terutama di daerah perbukitan yang lerengnya longsor serta sungai yang meluap akibat hujan ekstrem.
Angka ini mencerminkan besarnya dampak yang harus ditangani oleh pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat panjang yang tengah dihadapi di Pulau Sumatera.
Korban Hilang dan Upaya Pencarian
Selain korban tewas, BNPB mencatat bahwa masih terdapat 163 orang yang hilang hingga saat ini. Upaya pencarian oleh tim SAR gabungan terus dilakukan di titik-titik yang dianggap masih memungkinkan, meskipun kondisi medan serta kerusakan infrastruktur sangat menyulitkan proses evakuasi.
Beberapa lokasi pencarian berada di permukiman yang terendam lumpur atau tertutup material longsor. Tim SAR dilaporkan masih menemukan jenazah di sejumlah titik, walau probabilitas menemukan korban selamat semakin tipis.
Pengungsian dan Krisis Sosial
Para korban bencana tidak hanya terbatas pada angka meninggal dunia atau hilang. Ratusan ribu warga lainnya terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak atau tidak lagi aman untuk dihuni. BNPB mencatat total pengungsi di tiga provinsi itu mencapai lebih dari 449.000 jiwa, termasuk mereka yang mengungsi mandiri di rumah keluarga atau kerabat dan mereka yang tinggal di pos pengungsian sementara.
Situasi pengungsian ini menciptakan tantangan sosial baru bagi aparat pemerintah dan lembaga bantuan. Kebutuhan darurat seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, tempat berlindung yang layak, serta perlindungan anak dan kelompok rentan menjadi fokus dalam tahap awal penanganan pascabanjir.
Respon Pemerintah dan Penanganan Darurat
BNPB bersama pemerintah pusat dan daerah terus meningkatkan respon darurat untuk menanggulangi dampak banjir dan longsor ini. Upaya yang dilakukan antara lain:
- Koordinasi tim SAR gabungan untuk pencarian korban dan evakuasi.
- Distribusi logistik dan bantuan kebutuhan dasar seperti makanan, air minum, dan obat-obatan ke pengungsian.
- Rehabilitasi infrastruktur yang rusak parah, termasuk perbaikan jalan dan jembatan.
- Persiapan hunian sementara dan rehabilitasi bagi warga yang rumahnya rusak total.
Pemerintah juga memprioritaskan komunikasi dan dukungan psikososial bagi keluarga korban agar mereka mendapatkan pendampingan selama masa duka dan pemulihan sosial ekonomi.
Tantangan Medis dan Kesehatan
Kondisi pascabanjir membawa risiko kesehatan yang serius. Air banjir yang mencemari sumber air bersih meningkatkan kemungkinan wabah penyakit menular seperti diare, infeksi kulit, serta gangguan usus lainnya. Selain itu, akses medis di daerah terpencil yang rusak parah menjadi kendala untuk layanan kesehatan cepat tanggap.
Tim kesehatan dan relawan medis ditugaskan ke lokasi pengungsian untuk memberikan vaksinasi, pengobatan darurat, serta edukasi kesehatan kepada warga. Langkah ini penting untuk mencegah timbulnya krisis kesehatan sekunder di tengah masa pemulihan bencana.
Dampak Ekonomi dan Infrastruktur
Bencana banjir dan longsor ini menimbulkan kerugian ekonomi besar selain korban jiwa. Infrastruktur seperti jalan raya, jembatan, fasilitas publik, dan sumber mata pencaharian seperti pertanian serta usaha mikro turut rusak atau hilang akibat derasnya arus air dan gundukan material tanah.
Dampak ini tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi lokal karena banyak warga kehilangan lahan usaha atau pekerjaan, serta harus memulai kembali kehidupan mereka setelah bencana.
Solidaritas Nasional dan Dukungan Internasional
Musibah besar ini telah memunculkan gelombang solidaritas dari seluruh Indonesia. Pemerintah pusat mengajak masyarakat untuk turut membantu melalui donasi, relawan, dan dukungan moral bagi keluarga korban. Di sejumlah daerah di luar Sumatera, warga mengadakan kampanye bantuan dan penggalangan dana.
Selain itu, pemerintah melalui aparat seperti Polri juga mengambil langkah seperti pelarangan kembang api di seluruh Indonesia pada perayaan Tahun Baru 2026, sebagai bentuk solidaritas terhadap korban bencana banjir di Sumatra.
Evaluasi Kebijakan dan Mitigasi Bencana
Kejadian bencana ini menjadi momentum penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk mengevaluasi sistem mitigasi bencana nasional. Faktor-faktor seperti tata guna lahan, sistem drainase, pengelolaan sungai, serta kesiapsiagaan komunitas menjadi bagian dari evaluasi kebijakan jangka panjang.
Pakar juga menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan edukasi publik tentang risiko bencana untuk menekan angka korban bila musibah serupa terjadi di masa mendatang.
Kesimpulan
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa jumlah korban tewas akibat banjir dan longsor di Sumatera telah mencapai 1.138 jiwa, dengan ratusan lainnya masih hilang dan ribuan warga mengungsi. BNPB bersama pemerintah daerah terus mempercepat respon darurat, penanganan kesehatan, pemulihan fasilitas, serta bantuan bagi para korban.
Musibah ini bukan hanya persoalan korban jiwa, tetapi juga tantangan besar terhadap kapasitas mitigasi bencana, kesehatan masyarakat, dan pemulihan sosial-ekonomi di wilayah terdampak. Dukungan dan solidaritas nasional maupun regional menjadi elemen penting dalam fase pemulihan yang panjang ini.

