Nabi Palsu di Ghana Ditangkap Usai Sebarkan Teror Banjir Kiamat
Duniakreasi.id — ACCRA – Kepolisian Ghana menangkap seorang pria yang mengaku nabi setelah ia menyebarkan ramalan banjir kiamat. Aksi tersebut memicu kepanikan nasional dan keresahan publik. Pria itu bernama Evans Eshun, yang juga dikenal dengan nama Ebo Noah.
Ebo Noah mengklaim menerima wahyu ilahi tentang banjir besar yang akan melanda dunia. Ia menyebut bencana itu akan terjadi pada akhir Desember 2025. Klaim tersebut langsung menyebar luas melalui media sosial dan video daring.
Akibatnya, banyak warga Ghana merasa takut. Sebagian bahkan menghentikan aktivitas harian mereka. Situasi ini mendorong aparat bertindak cepat untuk mencegah kepanikan meluas.
Klaim Wahyu yang Menyesatkan Publik
Ebo Noah menyampaikan ramalannya secara terbuka. Ia menyebut banjir akan berlangsung selama tiga hingga empat tahun. Ia juga mengaku mendapat perintah Tuhan untuk membangun bahtera raksasa.
Dalam beberapa pernyataan, ia meminta dukungan publik. Ia mengajak pengikutnya membantu persiapan penyelamatan manusia. Pesan ini berhasil menarik perhatian banyak orang.
Namun, para ahli menilai klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. Tidak ada tanda bencana global seperti yang ia gambarkan. Meski begitu, narasi kiamat tetap menyebar cepat.
Ramalan Gagal dan Reaksi Warga
Tanggal 25 Desember 2025 akhirnya berlalu tanpa kejadian apa pun. Tidak ada banjir besar. Tidak ada tanda kiamat. Situasi tetap normal di seluruh Ghana.
Setelah itu, banyak warga merasa tertipu. Sebagian meluapkan kemarahan mereka di media sosial. Mereka menuntut pertanggungjawaban hukum atas kepanikan yang terjadi.
Kepercayaan publik terhadap Ebo Noah pun runtuh. Video dan pernyataannya mulai dipertanyakan. Tekanan terhadap aparat penegak hukum semakin kuat.
Polisi Ghana Lakukan Penangkapan
Pada 31 Desember 2025, Polisi Ghana menangkap Ebo Noah. Tim khusus siber menangani kasus ini. Aparat menilai tindakannya melanggar hukum.
Polisi menjeratnya dengan tuduhan menyebarkan informasi palsu. Tuduhan itu mencakup tindakan yang memicu ketakutan publik. Proses hukum pun segera berjalan.
Ebo Noah kemudian menjalani sidang perdana di Pengadilan Distrik Adenta. Hakim memerintahkan penahanan sementara. Pengadilan juga meminta pemeriksaan kejiwaan.
Pemeriksaan Psikiatri Jadi Sorotan
Pengadilan menjadwalkan pemeriksaan psikiatri untuk Ebo Noah. Langkah ini bertujuan memastikan kondisi mentalnya. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting proses hukum.
Jaksa menilai pemeriksaan itu perlu. Klaim wahyu dan kiamat dinilai tidak rasional. Pengadilan ingin memastikan semua prosedur berjalan adil.
Sidang lanjutan dijadwalkan pada pertengahan Januari 2026. Publik menantikan hasil pemeriksaan tersebut.
Dampak Sosial yang Luas
Kasus ini menimbulkan dampak sosial besar. Banyak warga mengaku mengalami stres. Sebagian merasa takut meninggalkan rumah.
Sekolah dan tempat kerja sempat mengalami gangguan. Beberapa orang memilih mengungsi sementara. Semua itu terjadi akibat informasi yang tidak benar.
Pakar komunikasi menilai kasus ini sebagai peringatan serius. Mereka menekankan bahaya penyebaran hoaks berbasis agama.
Respons Pemerintah dan Tokoh Agama
Pemerintah Ghana mengecam keras tindakan Ebo Noah. Pejabat menegaskan bahwa kebebasan berpendapat memiliki batas hukum. Informasi palsu tidak boleh dibiarkan.
Para pemuka agama juga angkat suara. Mereka menolak praktik ramalan kiamat. Menurut mereka, agama seharusnya membawa ketenangan.
Tokoh agama meminta masyarakat lebih kritis. Mereka mengajak publik memverifikasi setiap klaim luar biasa.
Fenomena Nabi Palsu di Era Digital
Kasus ini bukan yang pertama. Dunia pernah menyaksikan banyak ramalan kiamat gagal. Media sosial mempercepat penyebarannya.
Platform digital memberi ruang luas bagi klaim ekstrem. Tanpa literasi media, masyarakat mudah terpengaruh. Situasi ini menjadi tantangan global.
Para ahli menilai edukasi publik sangat penting. Literasi digital harus ditingkatkan. Masyarakat perlu belajar membedakan fakta dan manipulasi.
Pelajaran Penting bagi Masyarakat
Kasus Ebo Noah memberi pelajaran berharga. Informasi palsu dapat menimbulkan dampak nyata. Kepanikan massal bukan hal sepele.
Penegakan hukum menjadi kunci pencegahan. Negara perlu bertindak tegas terhadap penyebar hoaks. Langkah ini melindungi ketertiban sosial.
Masyarakat juga memegang peran penting. Sikap kritis dan rasional harus dikedepankan. Kepercayaan tidak boleh diberikan tanpa bukti.
Kesimpulan
Penangkapan nabi palsu di Ghana menegaskan bahaya ramalan kiamat palsu. Klaim tanpa dasar dapat merusak stabilitas sosial. Kasus ini menjadi peringatan keras di era digital.
Pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat harus bekerja bersama. Tujuannya jelas, yaitu menjaga ketenangan publik. Informasi yang benar harus selalu diutamakan.
