Menkes Bagikan Cerita Relawan Pulihkan Trauma Anak Pasca-bencana di Aceh
Duniakreasi.id – Jakarta — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membagikan cerita tentang peran relawan dalam menangani trauma psikologis anak-anak yang menjadi korban bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh dan beberapa wilayah Sumatera akhir tahun lalu. Dalam unggahan di akun Instagramnya, Menkes menegaskan bahwa aspek pemulihan kesehatan mental anak pascabencana sama pentingnya dengan penyembuhan luka fisik yang tampak dari luar.
Indonesia, khususnya Aceh, masih berada dalam fase penanganan pascabencana di awal 2026. Pasalnya, bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Aceh Tamiang, hingga Sumatera Utara dan Sumatera Barat di akhir November 2025 meninggalkan jejak trauma psikologis yang mendalam terutama bagi anak-anak.
Dalam suasana posko kesehatan yang penuh kecemasan, hadirnya relawan dengan pendekatan unik menunjukkan bagaimana dukungan psikososial bisa menjadi bagian krusial dari proses pemulihan. Bukan sekadar layanan medis rutin, tetapi membantu anak-anak mengembalikan rasa aman dan semangat hidup yang sempat hilang akibat pengalaman traumatis mereka.
Perjalanan Relawan di Posko Kesehatan Aceh
Menkes menceritakan secara detail pertemuannya dengan salah satu relawan yang memberikan dampak besar di Posko Kesehatan Kota Kuala Simpang, Aceh. Sosok inspiratif bernama Muliadi, yang akrab dipanggil “Kak Mull”, hadir bersama sebuah boneka bernama Aco. Peran Kak Mull bukan sebagai tenaga medis konvensional, tetapi sebagai ventriloquist alias penghibur yang menggunakan boneka untuk menciptakan interaksi dan tawa di tengah suasana pascabencana.
Pendekatan ini adalah bagian dari trauma healing, sebuah metode psikososial yang dirancang untuk membantu anak-anak memproses pengalaman traumatis mereka melalui aktivitas yang menyenangkan, interaktif, serta aman secara emosional. Dengan metode storytelling dan permainan, Kak Mull berhasil menciptakan momen tawa di posko yang sebelumnya penuh ketegangan.
“Obat yang manjur tidak melulu berbentuk pil, tapi bisa juga berupa tawa,” ucap Menkes mengenang momen tersebut. Ungkapan ini menegaskan bahwa pemulihan psikologis tidak bisa dipisahkan dari konteks kegiatan yang menghadirkan rasa aman, penghiburan, dan keterlibatan emosional anak-anak.
Trauma Psikologis Anak: Dampak Mendalam Pascabencana
Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih menjelaskan bahwa trauma psikologis pascabencana memiliki ciri khas tertentu, terutama pada anak-anak yang belum memiliki kemampuan untuk memahami dan memproses kejadian ekstrem secara rasional. Mereka sering menginternalisasi pengalaman seperti suara keras, kedinginan, atau derasnya arus air sebagai ancaman yang masih hidup di dalam ingatan mereka.
Menurut Maharani, trauma ini bisa tampak dalam berbagai bentuk: anak menjadi takut air, takut hujan, enggan meninggalkan orang tua, serta tampak cemas secara terus-menerus atau sangat mudah terkejut. Anak dalam kondisi seperti itu seringkali menunjukkan respons tubuh otomatis, seperti merasa tidak aman, kewaspadaan yang berlebihan, dan perasaan cemas yang terus muncul.
BKKBN Provinsi Aceh juga mencatat bahwa kelompok rentan seperti anak-anak sangat memerlukan pembinaan psikologis pascabencana untuk membantu mereka kembali pada rutinitas normal. Aktivitas seperti belajar, bermain, dan berinteraksi sosial secara sehat digalakkan guna merangsang kembali rasa aman dan keseimbangan emosional mereka.
Trauma healing bukan hanya sekadar hiburan sesaat. Aktivitas ini dirancang untuk membantu anak memahami kembali dunia mereka, membangun kembali rasa kontrol serta rasa aman, yang sering hilang akibat pengalaman mengerikan saat bencana. Pendekatan ini mempertemukan psikologi klinis, pendampingan sosial, dan kegiatan kreatif untuk mendukung proses pemulihan jangka panjang.
Strategi Pemerintah dan Kerja Sama Multipihak
Pemerintah melalui Kemenkes dan berbagai instansi telah menyusun strategi komprehensif dalam menangani dampak bencana ini. Layanan kesehatan dibuka di fasilitas kesehatan umum seperti rumah sakit dan puskesmas yang sudah pulih, sementara di titik-titik pengungsian dan posko kesehatan digelar layanan medis lengkap sekaligus trauma healing.
Tak berhenti di situ, dukungan juga datang dari banyak organisasi masyarakat sipil dan komunitas relawan. Sejumlah organisasi seperti Bunda-Bunda PERSISTRI Aceh mengadakan kegiatan trauma healing dengan pendekatan bermain dan kegiatan edukatif di berbagai titik pengungsian untuk membantu anak-anak menumbuhkan kembali optimisme dan keseimbangan emosional mereka pascabencana.
Unit relawan dari perusahaan seperti PT PLN (Persero) juga dilibatkan dalam upaya pemulihan psikososial. Relawan pegawai PLN turun langsung di beberapa titik di Aceh untuk mendampingi warga dan anak-anak korban bencana, membantu mereka melalui pendekatan yang bersifat komunitas dan penuh empati.
Selain itu, TNI AD bersama dengan tenaga kesehatan dan relawan membentuk tim terpadu yang menjalankan pelayanan medis sekaligus trauma healing di Kabupaten Bener Meriah, melibatkan anak-anak dalam kegiatan bernyanyi, bermain, dan aktivitas positif lain yang dirancang untuk membantu mengembalikan rasa aman mereka.
Kerja sama ini menunjukkan bahwa penanganan trauma pascabencana adalah upaya terpadu, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak lintas sektor baik pemerintah, militer, relawan sosial, organisasi masyarakat, hingga masyarakat lokal sendiri. Model kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan psikologis dan kehidupan sosial komunitas yang terdampak bencana.
Pentingnya Pemulihan Psikologis Anak untuk Masa Depan
Fakta menunjukkan bahwa trauma yang tidak tertangani pada masa kanak-kanak berpotensi berdampak luas terhadap perkembangan emosional dan sosial mereka di masa depan. Dukungan psikososial yang diberikan sejak dini sangat penting untuk meminimalkan risiko munculnya gangguan stres pascatrauma jangka panjang seperti fobia, kecemasan kronis, dan gangguan perilaku sosial.
Pemulihan psikologis bukan sekedar proses jangka pendek. Anak-anak pascabencana perlu waktu dan dukungan berkelanjutan — baik dari keluarga, komunitas, maupun profesional kesehatan mental — untuk benar-benar pulih secara emosional. Layanan yang menyertakan permainan edukatif, dialog interaktif, cerita naratif menarik, serta lingkungan sosial yang suportif menjadi bagian penting dari terapi ini.
Menkes menggarisbawahi bahwa kesehatan mental adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan masyarakat. Krisis seperti bencana alam memperlihatkan bahwa tantangan kesehatan bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis. Dengan kolaborasi berbagai elemen — dari relawan hingga pemerintah pusat — diharapkan anak-anak korban bencana Aceh dapat pulih, bangkit, dan melanjutkan hidup mereka dengan penuh harapan meski telah melewati pengalaman paling sulit dalam hidup mereka.
Kesimpulan
Upaya pemulihan trauma anak pascabencana di Aceh bukan hanya masalah medis, tetapi kebutuhan psikososial yang esensial. Pendekatan kreatif seperti storytelling dengan boneka, aktivitas bermain edukatif, serta dukungan komunitas dan relawan telah menunjukkan dampak nyata dalam membantu anak-anak pulih dari pengalaman traumatis. Kerja sama yang solid antara pemerintah, TNI, relawan dan masyarakat sipil menjadi kunci dalam membangun kembali rasa aman dan kehidupan normal bagi generasi muda di tengah tantangan pascabencana.

