BGN Wajibkan Semua Guru dan Staf Sekolah Terima MBG Mulai 2026
duniakreasi.id – Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan kebijakan penting dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai tahun 2026. Seluruh guru, tenaga kebersihan, hingga staf tata usaha (TU) di sekolah wajib menerima MBG secara merata tanpa pengecualian.
Penegasan ini muncul setelah BGN menemukan masih adanya sekolah yang hanya menyalurkan MBG kepada siswa, sementara tenaga pendidik dan staf pendukung belum masuk dalam daftar penerima. Padahal, ketentuan tersebut sudah tercantum dalam regulasi resmi pemerintah.
Kebijakan ini mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 tentang perluasan penerima manfaat MBG. Aturan tersebut secara jelas memasukkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari kelompok yang berhak menerima makanan bergizi gratis.
Penegasan Langsung dari BGN di Lapangan
Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan kebijakan tersebut saat melakukan peninjauan pelaksanaan MBG di salah satu sekolah menengah kejuruan di Jakarta pada awal Januari 2026.
Dalam kunjungan itu, Nanik secara langsung menegur pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum menyalurkan MBG kepada guru dan staf sekolah.
“Program ini bukan hanya untuk siswa. Semua guru harus menerima. Tenaga kebersihan juga harus menerima. Staf tata usaha tidak boleh dikecualikan,” tegas Nanik di hadapan pengelola MBG dan pihak sekolah.
Ia meminta seluruh SPPG mematuhi aturan yang berlaku dan tidak menafsirkan kebijakan MBG secara sempit.
Alasan Guru dan Staf Wajib Mendapat MBG
BGN menilai peran guru dan staf sekolah sangat krusial dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan produktif. Karena itu, negara harus menjamin asupan gizi mereka melalui program MBG.
Menurut BGN, pemberian MBG kepada seluruh tenaga sekolah bertujuan untuk:
- Menjaga stamina dan produktivitas guru selama kegiatan belajar mengajar
- Mengurangi beban pengeluaran harian tenaga sekolah
- Mewujudkan kesetaraan gizi di lingkungan pendidikan
- Menjadikan sekolah sebagai pusat budaya hidup sehat
BGN menilai tidak adil jika siswa menerima makanan bergizi, sementara guru dan staf yang mendampingi mereka setiap hari justru terabaikan.
Dorongan Kreativitas Menu MBG
Selain menekankan pemerataan penerima, BGN juga mendorong SPPG meningkatkan kualitas dan variasi menu MBG. Nanik meminta pengelola tidak terpaku pada satu jenis lauk saja.
Ia menilai sumber protein seperti ikan air tawar, termasuk ikan lele, memiliki kandungan gizi tinggi dan mudah diperoleh. Penggunaan bahan pangan lokal juga dinilai dapat menekan biaya serta meningkatkan keberlanjutan program.
BGN berharap kreativitas menu dapat meningkatkan minat penerima MBG sekaligus menghindari pemborosan makanan.
Respons Positif dari Sekolah
Pelaksanaan MBG perdana 2026 mendapat respons positif dari siswa maupun tenaga pendidik. Di beberapa sekolah, siswa terlihat antusias menyantap makanan bergizi yang disediakan.
Pihak sekolah juga mulai melakukan pendataan ulang untuk memastikan seluruh guru, staf TU, dan tenaga kebersihan masuk dalam daftar penerima MBG. Beberapa SPPG mengaku tengah menyesuaikan kapasitas produksi agar mampu melayani tambahan penerima manfaat.
Langkah ini menunjukkan kesiapan sekolah dalam mendukung kebijakan pemerintah secara penuh.
Target Besar MBG Tahun 2026
Program MBG 2026 dirancang dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah menargetkan puluhan juta penerima manfaat dari berbagai kelompok.
Selain siswa dan tenaga sekolah, MBG juga menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Pemerintah ingin memastikan kelompok rentan mendapat asupan gizi yang cukup dan berkelanjutan.
BGN telah menyiapkan ribuan SPPG di berbagai daerah untuk mendukung distribusi makanan bergizi secara merata.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski kebijakan sudah jelas, implementasi MBG masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya meliputi:
- Penyesuaian kapasitas dapur MBG
- Distribusi makanan di daerah terpencil
- Pengawasan kualitas gizi dan kebersihan
- Koordinasi antara sekolah dan SPPG
BGN menegaskan akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi agar program berjalan sesuai aturan dan tujuan awal.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Program MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memberikan efek ekonomi yang signifikan. Pelaksanaan MBG mendorong:
- Penyerapan tenaga kerja lokal
- Pemberdayaan UMKM penyedia bahan pangan
- Perputaran ekonomi di sektor pangan dan logistik
BGN menilai MBG sebagai program strategis yang mampu memperkuat ketahanan gizi sekaligus ekonomi masyarakat.
Penutup
Kebijakan BGN yang mewajibkan guru, tenaga kebersihan, dan staf tata usaha menerima MBG mulai 2026 menegaskan komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan inklusif.
Dengan penerapan yang konsisten, pengawasan ketat, dan dukungan semua pihak, MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga memperkuat fondasi pendidikan nasional.

