BantuanDuniaFinansialSosial

Iran Tuding Israel Alami Kekalahan Lebih Memalukan Dibanding Perang 12 Hari

Duniakreasi.id Teheran — Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf melontarkan pernyataan keras terhadap Israel. Ia menyebut Tel Aviv mengalami kekalahan yang lebih memalukan dibanding Perang 12 Hari pada Juni lalu. Qalibaf menyampaikan pernyataan itu dalam pidato resmi di Teheran.

Menurut Qalibaf, Israel gagal total dalam upaya menciptakan kekacauan di Iran. Ia menilai operasi itu runtuh dalam waktu kurang dari dua hari. Pemerintah Iran mengklaim aparat keamanan berhasil meredam semua gangguan tanpa dampak strategis.

Qalibaf menegaskan bahwa kegagalan tersebut mencoreng reputasi intelijen Israel. Ia menilai insiden itu lebih memalukan dibanding konflik militer terbuka yang berlangsung hampir dua pekan.

Tudingan Keterlibatan Israel

Qalibaf menuding Israel berada di balik serangkaian kerusuhan teroris di beberapa kota Iran. Ia menyebut pihak asing mendanai dan mengoordinasikan aksi tersebut. Dalam pernyataannya, ia juga menyebut Amerika Serikat dan sekutu Barat terlibat secara tidak langsung.

Menurutnya, kelompok yang terlibat mencoba memicu kekacauan sosial. Mereka menargetkan fasilitas publik dan pusat keramaian. Namun, aparat Iran bergerak cepat dan menutup semua celah.

Qalibaf menilai kegagalan itu menunjukkan lemahnya strategi Israel. Ia menyebut upaya tersebut tidak terencana dengan matang. Pemerintah Iran mengklaim berhasil menggagalkan semua rencana sabotase.

Kerusuhan Gagal dalam 48 Jam

Otoritas Iran menyatakan bahwa kerusuhan berakhir dalam waktu kurang dari 48 jam. Aparat menangkap puluhan orang yang terlibat. Pemerintah menyebut mereka bagian dari jaringan teroris yang terlatih.

Qalibaf mengatakan rakyat Iran tetap tenang. Ia menilai solidaritas publik menjadi faktor utama kegagalan operasi tersebut. Menurutnya, masyarakat tidak terpancing provokasi.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan campur tangan asing. Pemerintah berjanji akan menindak tegas semua pihak yang terlibat.

Perbandingan dengan Perang 12 Hari

Qalibaf membandingkan insiden itu dengan Perang 12 Hari pada Juni 2025. Konflik tersebut mempertemukan Iran dan Israel dalam serangan terbuka. Kedua pihak saling meluncurkan rudal dan drone.

Israel menargetkan fasilitas strategis Iran. Iran membalas dengan serangan ke wilayah Israel. Konflik itu menyebabkan korban jiwa dan kerusakan besar.

Setelah 12 hari, kedua pihak menyepakati gencatan senjata. Iran menyebut langkah itu sebagai kemenangan defensif. Israel juga mengklaim berhasil melemahkan kemampuan Iran.

Namun, Qalibaf menilai hasil konflik itu tidak seburuk kegagalan terbaru Israel. Ia menyebut operasi rahasia Israel justru runtuh tanpa hasil.

Narasi Kemenangan Iran

Pemerintah Iran menyebut keberhasilan ini sebagai bukti kekuatan nasional. Qalibaf memuji aparat keamanan dan intelijen dalam negeri. Ia menyebut mereka bekerja cepat dan efektif.

Ia juga memuji peran masyarakat. Menurutnya, kewaspadaan publik membantu menggagalkan rencana musuh.

Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak mencari konflik baru. Namun, ia menegaskan negaranya siap menghadapi ancaman apa pun.

Respons Regional dan Global

Pernyataan Qalibaf memicu perhatian internasional. Sejumlah analis menilai retorika itu bertujuan memperkuat posisi politik domestik Iran. Mereka menilai Iran ingin menunjukkan kekuatan di tengah tekanan sanksi.

Beberapa pakar Timur Tengah menyebut klaim tersebut sulit diverifikasi. Mereka menilai narasi kemenangan sering muncul dalam konflik regional.

Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan resmi. Israel juga belum menanggapi tudingan tersebut.

Negara-negara Eropa menyerukan penurunan ketegangan. Mereka mendorong kedua pihak kembali ke jalur diplomatik.

Ketegangan yang Terus Meningkat

Hubungan Iran dan Israel tetap berada di titik terendah. Kedua negara saling menuduh melakukan sabotase dan serangan siber.

Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir. Iran membantah tuduhan itu. Teheran menyebut program nuklirnya bersifat damai.

Serangan udara, sabotase fasilitas, dan operasi rahasia terus terjadi. Ketegangan ini meningkatkan risiko konflik terbuka.

Dampak Politik di Dalam Negeri Iran

Pernyataan Qalibaf juga berdampak pada politik domestik Iran. Pemerintah menghadapi tekanan ekonomi dan sosial. Sanksi internasional masih membebani perekonomian.

Dengan menyoroti kegagalan Israel, pemerintah mencoba mengalihkan perhatian publik. Narasi ini juga memperkuat legitimasi penguasa.

Qalibaf menegaskan bahwa Iran berdiri tegak melawan tekanan asing. Ia menyerukan persatuan nasional.

Risiko Eskalasi Baru

Pengamat memperingatkan risiko eskalasi. Retorika keras bisa memicu salah tafsir. Konflik kecil bisa berubah menjadi perang terbuka.

Israel dan Iran sama-sama memiliki kemampuan militer besar. Kawasan Timur Tengah tetap rapuh.

Diplomasi menjadi satu-satunya jalan keluar. Namun, kedua pihak masih saling curiga.

Kesimpulan

Tudingan Iran bahwa Israel mengalami kekalahan lebih memalukan dibanding Perang 12 Hari menambah panas situasi regional. Qalibaf menyebut kegagalan operasi rahasia Israel sebagai bukti kelemahan musuh.

Meski klaim itu sulit diverifikasi, narasi tersebut mencerminkan eskalasi retorika politik. Ketegangan Iran–Israel belum menunjukkan tanda mereda.

Dunia internasional terus memantau perkembangan. Stabilitas kawasan kini bergantung pada kemampuan kedua pihak menahan diri dan memilih jalur diplomatik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *