BlogKreasiNasionalSosial

Sejarah Masjid Mungsolkanas Bandung: Tradisi, Salinan Alquran, dan Jejak Perjalanan

duniakreasi.id — Bandung — Di tengah keramaian kawasan Jalan Cihampelas, sebuah masjid sederhana namun penuh makna berdiri di Gang Mama Winata. Namanya unik dan berbeda dari masjid pada umumnya. Ia bukan nama Arab, tapi akronim yang membawa pesan spiritual tinggi. Masjid itu dikenal sebagai Masjid Mungsolkanas, salah satu tempat ibadah tertua di Kota Bandung.

Keberadaan bangunan ini tidak hanya sebagai ruang ibadah. Ia memuat tradisi lokal yang telah hidup selama lebih dari satu setengah abad. Nilai sejarahnya berkait erat dengan tradisi selawatan, salinan Alquran yang dijaga turun-temurun, serta bentuk gotong-royong masyarakat Bandung.


Asal Nama yang Unik: Makna di Balik ‘Mungsolkanas’

Nama Mungsolkanas tidak berasal dari bahasa Arab seperti nama masjid pada umumnya. Kata ini merupakan singkatan dari “Mangga Urang Ngaos Sholawat Kanggo Kanjeng Nabi Muhammad SAW”, sebuah ajakan dalam bahasa Sunda yang berarti “Mari kita berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.”

Nama tersebut merefleksikan kehidupan masyarakat di sekitar masjid sejak awal berdiri. Tradisi selawatan bukan sekadar kebiasaan, tetapi menjadi bagian dari identitas religius komunitas. Warga menjalankan selawat sebelum dan sesudah salat, serta pada momen khusus seperti saat duka cita.

Menurut Utep Rahmat, sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Mungsolkanas, aktivitas selawatan sudah mendarah daging dalam tradisi setempat. Utep menjelaskan bahwa masyarakat setempat menjunjung tinggi nilai spiritual melalui selawat kepada Nabi ﷺ.


Asal Usul dan Pembangunan

Masjid Mungsolkanas lahir sejak tahun 1869. Lokasinya saat itu bukan di tengah gang seperti sekarang, tetapi berada di area yang lebih terbuka, menyatu dengan hamparan sawah dan permukiman awal Bandung.

Bangunan awal masjid berupa rumah panggung sederhana dengan dinding anyaman bambu. Warga membangunnya secara gotong-royong di atas tanah wakaf atas nama Hj. Siti Lantenas, seorang janda dari keluarga camat di wilayah Lengkong Sukabumi. Wakaf ini menjadi pondasi kuat berdirinya masjid yang akan menjadi saksi sejarah bagi generasi berikutnya.

Karena bersandar pada inisiatif dan kekuatan komunitas, masjid ini tidak mendapat dukungan dana dari luar atau pemerintah. Seluruh biaya dan kerja berasal dari warga yang memiliki kecintaan besar terhadap rumah ibadah mereka.


Pengembangan dan Renovasi Seiring Zaman

Seiring perjalanan waktu, bangunan masjid mengalami beberapa kali perubahan bentuk fisik dan perluasan ruang.

Renovasi di Masa 1930-an

Pada tahun 1933, masjid mengalami renovasi pertama. Saat itu, masyarakat melihat kebutuhan untuk memperluas ruang ibadah yang masih terbatas. Proyek ini dilakukan secara komunitas, tanpa campur tangan pemerintah kolonial Belanda.

Bangunan berubah dari yang semula bilik bambu dan panggung menjadi struktur lebih permanen. Lantai yang semula berupa kayu panggung pun diganti dengan tegel.

Renovasi Besar pada 2007–2009

Perubahan signifikan terjadi lagi pada periode 2007–2009. Warga memilih mendirikan bangunan dua lantai yang lebih luas agar mampu menampung jamaah lebih banyak. Bagian atas dijadikan ruang multifungsi, termasuk sebagai lokasi Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dan kegiatan belajar komunitas lainnya.

Bangunan lama yang sederhana kini berubah menjadi struktur yang lebih modern. Namun warga memastikan nilai sejarah tetap hidup melalui tradisi keagamaan, bukan hanya nilai arsitektur.


Tradisi dan Aktivitas Keagamaan di Masjid Mungsolkanas

Masjid ini lebih dari sekadar bangunan ibadah. Ia menjadi pusat kegiatan sosial dan spiritual masyarakat.

Warga sekitar mengadakan berbagai kegiatan rutin seperti:

  • Pengajian untuk anak-anak dan dewasa
  • Pengajian ibu-ibu
  • Pelajaran Al-Quran dan pendidikan agama
  • Kegiatan Ramadan dan perayaan keagamaan lain

Masjid ini tetap hidup sebagai pusat yang memajukan agama dan pendidikan, bukan sekadar monumen sejarah. Tradisi lokal terus dijaga, sehingga generasi baru tetap mengenal akar sejarah masjid ini.


Salinan Alquran Tulis Tangan: Warisan berabad-abad

Salah satu peninggalan paling berharga yang masih disimpan di masjid adalah salinan Alquran tulisan tangan. Manuskrip ini ditulis oleh tokoh masyarakat awal masjid yaitu Mama Aden di sekitar tahun 1870-an.

Salinan Alquran ini tidak hanya menjadi artefak bersejarah, tetapi juga menjadi simbol ketekunan dan pendidikan saat itu. Ia dipajang di bagian lantai dua masjid, menjadi pengingat visual bahwa penyebaran Islam di wilayah ini sudah berlangsung sejak masa awal berdirinya Bandung.


Cerita Soekarno di Masjid Mungsolkanas

Masyarakat sekitar juga menyimpan cerita tentang Presiden Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia. Menurut warga, Soekarno dikabarkan pernah singgah dan tidur di masjid ini saat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Meski belum ditemukan bukti foto atau dokumentasi resmi, cerita ini tetap hidup secara lisan. Lokasi masjid yang dekat dengan rute pejalan kaki mahasiswa pada masa itu memperkuat cerita tersebut.


Makna Sosial dan Spiritualitas

Masjid Mungsolkanas bukan sekadar obyek sejarah. Ia menjadi penanda bagaimana Islam berkembang di Bandung melalui bahasa lokal, gotong-royong, serta tradisi yang melekat dalam kehidupan komunitas.

Bangunan yang tersembunyi di gang kecil itu mengingatkan bahwa kekuatan spiritual tidak selalu datang dari kemegahan fisik, tetapi dari ketulusan dan keterlibatan bersama.

Ritual selawatan yang melekat dalam tradisi, keberadaan salinan Alquran tulisan tangan, dan keberlangsungan kegiatan keagamaan menjadikan masjid ini bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam di Bandung.


Penutup: Warisan yang Terus Hidup

Sejak berdiri lebih dari satu setengah abad lalu, Masjid Mungsolkanas tumbuh bersama masyarakatnya. Dari rumah panggung sederhana hingga bangunan dua lantai yang aktif dijadikan pusat komunitas, perjalanan masjid ini mencerminkan semangat gotong-royong dan kecintaan terhadap nilai spiritual.

Tradisi selawatan yang menjadi semacam penanda identitas, serta karya tangan berupa salinan Alquran, menunjukkan bahwa tempat ini bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga pusat pembelajaran dan kebersamaan umat.

Masjid Mungsolkanas tetap hidup. Ia bukan museum sejarah, tapi ruang aktif iman yang terus diwariskan ke generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *