AlamBantuanNasionalSosial

Longsor Talun Pekalongan: Dua Rumah Rusak, 17 Warga Mengungsi

duniakreasi.id – Pekalongan, Jawa Tengah – Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Talun memicu longsor di Desa Krompeng, Kabupaten Pekalongan. Peristiwa itu terjadi pada Jumat siang. Dua rumah warga rusak. Sebanyak 17 orang harus mengungsi demi keselamatan.

Longsor terjadi di tebing Sungai Kupang. Tebing itu berada di Dukuh Rompeng Krajan. Tanah bergerak setelah hujan turun sejak pagi. Warga melihat retakan muncul sebelum longsor meluncur.

Peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, kerusakan bangunan cukup serius. Aparat setempat langsung bertindak cepat.


Kronologi Kejadian

Hujan turun dengan intensitas tinggi sejak pagi. Air terus mengalir ke lereng sungai. Tanah menjadi jenuh dan kehilangan daya ikat.

Sekitar pukul 13.30 WIB, bagian tebing mulai bergeser. Warga mendengar suara retakan. Beberapa orang berteriak memberi peringatan.

Tak lama kemudian, tanah longsor meluncur. Material menekan bagian belakang dua rumah. Dinding rumah langsung retak. Halaman rumah ikut ambles.

Warga merekam kejadian itu. Video tersebut menyebar di media sosial. Banyak orang menyatakan khawatir dengan kondisi lereng.


Dua Rumah Mengalami Kerusakan

Longsor merusak rumah milik Yasin dan Rofik. Keduanya tinggal dekat tebing Sungai Kupang.

Dinding rumah Yasin retak cukup lebar. Celah mencapai sekitar lima sentimeter. Tanah halaman di belakang rumahnya juga terbelah.

Retakan di halaman memanjang hingga puluhan meter. Tanah tampak turun beberapa sentimeter. Struktur rumah menjadi tidak stabil.

Rumah Rofik juga mengalami kondisi serupa. Retakan muncul di halaman dan bagian pondasi. Dinding belakang rumah ikut mengalami pergeseran.

Petugas menilai kedua rumah tidak lagi aman untuk ditempati. Pemerintah desa meminta penghuni segera keluar.


17 Warga Mengungsi

Sebanyak 17 orang dari empat keluarga harus mengungsi. Mereka tinggal di rumah yang rusak dan rumah di sekitarnya.

Petugas mengevakuasi warga ke rumah kerabat dan lokasi aman. Aparat desa mendampingi proses evakuasi.

Camat Talun, Argo Yudho Utomo, menyampaikan langkah ini sebagai antisipasi. Ia ingin mencegah risiko longsor susulan.

“Keselamatan warga menjadi prioritas. Kami minta mereka menjauh dari lokasi rawan,” ujarnya.


Respons Cepat Aparat

Polsek Talun langsung memasang garis polisi di lokasi longsor. Langkah ini bertujuan membatasi akses warga.

Petugas melarang warga masuk ke area berbahaya. Mereka juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada.

Perangkat desa ikut membantu pengamanan lokasi. Mereka mendata kerusakan dan jumlah pengungsi.

Relawan setempat turut mendukung evakuasi. Mereka membantu memindahkan barang penting milik warga.


Faktor Penyebab Longsor

Curah hujan tinggi menjadi pemicu utama longsor. Hujan membuat tanah menjadi jenuh air.

Struktur tanah di tebing sungai juga tergolong labil. Lereng tersebut memiliki kemiringan curam.

Sebelumnya, warga memasang bronjong sebagai penahan. Namun, tekanan air dan tanah tetap menggerus bagian belakang bronjong.

Akibatnya, tanah kehilangan penopang. Longsor pun tidak bisa dihindari.

Warga mengaku sering melihat retakan kecil sebelum kejadian. Namun, mereka tidak menyangka longsor akan terjadi secepat itu.


Kondisi Geografis yang Rentan

Wilayah Talun berada di daerah perbukitan. Banyak permukiman berdiri di dekat sungai.

Saat musim hujan, wilayah ini sering mengalami bencana tanah longsor. Beberapa titik masuk kategori rawan.

Ahli kebencanaan menyebut lereng sungai sebagai zona berisiko tinggi. Air hujan mudah menggerus tanah di area tersebut.

Vegetasi penahan tanah juga terbatas. Akar pohon tidak cukup kuat menahan pergerakan tanah.


Langkah Mitigasi Darurat

Pemerintah desa mengusulkan penguatan lereng sungai. Mereka meminta dukungan dari pemerintah kabupaten.

Rencana awal mencakup pemasangan bronjong tambahan. Mereka juga akan menambah saluran drainase.

Petugas teknis akan memeriksa stabilitas tanah. Hasil pemeriksaan akan menentukan langkah lanjutan.

Sementara itu, warga tidak diizinkan kembali ke rumah. Aparat menunggu kondisi benar-benar aman.


Imbauan kepada Warga

Pemerintah mengimbau warga tetap waspada. Mereka diminta memantau kondisi tanah dan bangunan.

Warga juga harus melaporkan retakan baru. Petugas akan menindaklanjuti setiap laporan.

Masyarakat di daerah rawan diminta menyiapkan tas siaga bencana. Tas ini berisi dokumen penting dan kebutuhan darurat.

Pemerintah juga mendorong edukasi kebencanaan. Tujuannya agar warga mengenali tanda awal longsor.


Pentingnya Mitigasi Jangka Panjang

Peristiwa ini menegaskan pentingnya mitigasi bencana. Pemerintah perlu memetakan zona rawan longsor.

Penataan permukiman di dekat sungai juga perlu evaluasi. Rumah di lereng curam memiliki risiko tinggi.

Pembangunan infrastruktur penahan tanah harus menjadi prioritas. Saluran air yang baik juga penting.

Selain itu, penanaman vegetasi penahan tanah perlu digalakkan. Akar tanaman bisa membantu mengikat tanah.


Kesimpulan

Longsor di Talun Pekalongan merusak dua rumah dan memaksa 17 warga mengungsi. Hujan deras memicu pergerakan tanah di tebing Sungai Kupang.

Aparat bergerak cepat mengamankan lokasi dan mengevakuasi warga. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Namun, risiko longsor susulan masih ada. Pemerintah dan warga perlu terus waspada.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana. Keselamatan warga harus selalu menjadi prioritas utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *