Kontroversi Sahur On The Road di Jombang: Sound Horeg dan Penari Tuai Kritik
Duniakreasi.id — JOMBANG – Tradisi Berubah Jadi Kontroversi
Kegiatan sahur on the road di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, memicu polemik. Video kegiatan itu viral di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan iring-iringan kendaraan dengan sound horeg berdaya tinggi.
Beberapa peserta juga menghadirkan penari di tengah konvoi. Aksi itu langsung menuai kritik. Banyak warga menilai kegiatan tersebut tidak mencerminkan suasana Ramadan.
Peristiwa ini terjadi pada Minggu dini hari, 22 Februari 2026. Lokasi kegiatan berada di wilayah Kecamatan Ploso dan Kabuh. Jalan desa dipenuhi peserta sejak pukul 02.00 WIB.
Sound Horeg Dominasi Jalan Desa
Peserta membawa perangkat sound system berukuran besar. Mereka memutar musik dengan volume tinggi. Dentuman bass terdengar hingga radius cukup jauh.
Konvoi bergerak perlahan melewati permukiman warga. Sejumlah warga mengaku terganggu. Mereka menilai suara terlalu keras untuk waktu sahur.
Tradisi membangunkan sahur biasanya dilakukan dengan cara sederhana. Warga lazim memakai kentongan atau pengeras suara masjid. Namun kegiatan kali ini menghadirkan konsep berbeda. Peserta memilih format hiburan jalanan.
Kehadiran Penari Jadi Sorotan
Video yang beredar memperlihatkan seorang penari tampil di atas kendaraan. Ia berjoget mengikuti irama musik. Beberapa peserta terlihat memberi saweran.
Momen inilah yang memicu reaksi keras. Banyak netizen menyebut aksi tersebut tidak pantas untuk bulan Ramadan. Mereka mempertanyakan tujuan utama kegiatan itu.
Sebagian warganet menyayangkan perubahan makna sahur on the road. Mereka menilai kegiatan tersebut lebih mirip hiburan malam dibanding aktivitas membangunkan sahur.
Polisi Tegaskan Acara Tanpa Izin
Kapolsek Ploso, Kompol Achmad Chairuddin, memberikan pernyataan tegas. Ia menyatakan panitia tidak mengajukan izin.
Pihak kepolisian tidak menerima pemberitahuan resmi. Pemerintah desa juga tidak mengetahui detail kegiatan tersebut.
Chairuddin menegaskan aparat akan meningkatkan patroli. Polisi ingin mencegah kegiatan serupa terulang. Ia mengingatkan masyarakat agar mematuhi aturan.
Menurutnya, setiap kegiatan yang melibatkan massa wajib memiliki izin. Penyelenggara harus berkoordinasi dengan aparat dan perangkat desa.
Reaksi Tokoh Publik
Kontroversi ini menarik perhatian sejumlah tokoh nasional. Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, turut angkat bicara.
Ia menyayangkan konsep sahur yang menghadirkan hiburan berlebihan. Menurutnya, Ramadan merupakan bulan ibadah. Kegiatan publik seharusnya menjaga etika dan kesopanan.
Ia mengajak masyarakat kembali pada esensi sahur. Tujuan utama sahur adalah mempersiapkan diri berpuasa. Aktivitas tersebut seharusnya menghadirkan ketenangan.
Perdebatan di Media Sosial
Media sosial mempercepat penyebaran video itu. Dalam hitungan jam, tayangan tersebut mendapat ribuan komentar.
Sebagian pengguna menilai kegiatan itu kreatif. Namun mayoritas komentar bernada kritik. Mereka menyoroti pakaian penari dan kerasnya musik.
Perdebatan pun melebar. Ada yang membela dengan alasan hiburan rakyat. Ada pula yang menuntut aparat bertindak tegas.
Fenomena ini menunjukkan perubahan budaya digital. Satu peristiwa lokal bisa langsung menjadi isu nasional.
Tradisi Sahur dan Pergeseran Makna
Sahur on the road awalnya bertujuan positif. Anak muda turun ke jalan untuk membangunkan warga. Beberapa komunitas bahkan membagikan makanan gratis.
Namun praktik di lapangan sering berbeda. Sebagian kelompok mengubah kegiatan menjadi ajang konvoi motor. Mereka menambahkan musik keras dan atraksi hiburan.
Perubahan konsep ini memunculkan risiko. Suara bising dapat mengganggu warga. Kerumunan besar juga berpotensi menimbulkan gesekan.
Di banyak daerah, aparat rutin mengingatkan warga. Polisi meminta masyarakat menjaga ketertiban selama Ramadan.
Upaya Pencegahan dan Evaluasi
Polres Jombang menyatakan akan memperketat pengawasan. Aparat akan menggelar patroli rutin menjelang sahur. Mereka juga menggandeng tokoh masyarakat.
Langkah ini bertujuan menjaga situasi tetap kondusif. Polisi ingin mencegah konflik horizontal. Mereka juga ingin memastikan warga dapat beribadah dengan nyaman.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar tidak menggelar konvoi tanpa izin. Jika ingin membuat kegiatan sosial, panitia harus melapor lebih dulu.
Dampak Sosial yang Muncul
Kontroversi ini memunculkan diskusi luas. Banyak pihak menyoroti pentingnya menjaga norma sosial. Ramadan memiliki nilai sakral bagi umat Islam.
Kegiatan publik perlu mempertimbangkan konteks budaya. Hiburan tidak selalu cocok untuk setiap momentum. Penyelenggara harus memahami sensitivitas masyarakat.
Kasus di Jombang menjadi pelajaran penting. Tradisi bisa berkembang, tetapi tetap perlu batas. Kebebasan berekspresi tidak boleh mengganggu ketertiban umum.
Refleksi untuk Generasi Muda
Anak muda memegang peran besar dalam tradisi sahur on the road. Kreativitas mereka patut diapresiasi. Namun kreativitas juga membutuhkan tanggung jawab.
Masyarakat berharap generasi muda tetap menjaga nilai religius. Ramadan bukan sekadar perayaan, tetapi juga momentum introspeksi.
Kegiatan sosial tetap bisa berjalan tanpa unsur kontroversial. Komunitas dapat fokus pada pembagian makanan sahur. Mereka juga bisa mengadakan kajian atau kegiatan amal.
Pendekatan seperti ini akan memperkuat citra positif. Selain itu, masyarakat pun merasa dihargai.
Kesimpulan
Sahur on the road di Jombang berubah menjadi sorotan nasional. Sound horeg dan penari memicu polemik luas. Polisi menyatakan acara tersebut tidak berizin.
Tokoh publik ikut memberikan kritik. Warganet pun ramai berdebat. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya menjaga etika selama Ramadan.
Ke depan, masyarakat perlu lebih bijak. Tradisi sahur harus kembali pada tujuan awal. Ketertiban dan kenyamanan warga harus menjadi prioritas.
Ramadan adalah bulan penuh berkah. Semua pihak memiliki tanggung jawab menjaga kesuciannya.
