DuniaFinansialSosial

AS Tegaskan Ancaman ke Iran Agar Tak Gunakan Hizbullah Tekan Demonstran

AS Menyuarakan Kekhawatiran Serius

duniakreasi.id – Teheran – Amerika Serikat (AS) menyatakan keprihatinan serius setelah muncul laporan bahwa Iran berencana menggunakan pejuang Hizbullah dan milisi Irak untuk menekan demonstran damai. Selain itu, Departemen Luar Negeri AS menyampaikan peringatan tersebut melalui akun resmi mereka di platform X, Sabtu (10/1/2026).

Menurut AS, langkah tersebut berpotensi memperburuk krisis di dalam negeri Iran. Oleh karena itu, Washington meminta Teheran menahan diri dan menghormati hak warganya.

Penggunaan Pasukan Proksi Jadi Sorotan

Lebih lanjut, pejabat AS menegaskan bahwa penggunaan pasukan proksi untuk menghadapi warga sipil merupakan tindakan serius. “Amerika Serikat prihatin dengan laporan bahwa Republik Islam menggunakan teroris Hizbullah dan milisi Irak untuk menindak protes damai,” bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Iran International.

Dengan demikian, AS menilai tindakan tersebut tidak hanya melanggar hak asasi manusia, tetapi juga mencerminkan kegagalan pemerintah dalam mengelola aspirasi publik.

Dana Rakyat Dinilai Salah Arah

Selain itu, AS menyoroti penggunaan miliaran dolar dana publik Iran untuk membiayai pasukan proksi di kawasan regional. Padahal, dana tersebut seharusnya digunakan untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, pemerintah Iran justru memanfaatkan anggaran tersebut untuk kepentingan keamanan internal. Akibatnya, ketidakpuasan publik terus meningkat.

Protes Memasuki Fase Nasional

Sementara itu, gelombang protes di Iran telah memasuki hari ke-13. Rakyat di berbagai wilayah bersatu menuntut perubahan kebijakan dan kepemimpinan.

Awalnya, demonstrasi berlangsung secara lokal dan damai. Namun kini, aksi tersebut berkembang menjadi simbol perlawanan nasional terhadap pemerintah. Oleh sebab itu, AS kembali menegaskan pentingnya perlindungan terhadap hak demonstran.

Ancaman terhadap Reputasi Internasional Iran

Di sisi lain, laporan internasional memperingatkan bahwa keterlibatan milisi asing dapat memperburuk citra Iran di mata dunia. Jika langkah itu tetap diambil, Iran berisiko menghadapi kecaman global.

Selain kecaman, pejabat AS juga menyinggung kemungkinan sanksi tambahan. Dengan kata lain, tekanan internasional berpotensi semakin besar.

Diplomasi AS untuk Mencegah Eskalasi

Menurut para pengamat, ancaman AS merupakan bagian dari strategi diplomasi untuk mencegah eskalasi konflik. Selain tekanan politik, Washington juga meningkatkan pengawasan terhadap pergerakan pasukan proksi di Timur Tengah.

Karena itu, AS menilai pendekatan represif tidak akan menyelesaikan krisis. Sebaliknya, dialog dinilai sebagai solusi jangka panjang.

Penahanan Tokoh Picu Kritik

Sementara itu, media lokal melaporkan penahanan lebih dari 100 tokoh yang dituding berafiliasi dengan pihak tertentu. Menanggapi hal tersebut, AS menilai langkah itu merusak kepercayaan publik.

Lebih jauh, Washington menilai penahanan tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan sipil. Oleh sebab itu, AS mendesak Iran menghentikan tindakan represif.

Solidaritas Publik Terus Menguat

Selain tekanan internasional, solidaritas rakyat Iran juga terus menguat. Demonstrasi damai berlangsung di berbagai kota dengan tuntutan yang semakin jelas.

Dalam konteks ini, Departemen Luar Negeri AS menilai gerakan rakyat Iran sebagai momentum penting dalam sejarah perlawanan sipil. Karena itulah, AS meminta pemerintah Iran tidak mengabaikan suara publik.

Dampak Regional Jadi Perhatian Dunia

Lebih lanjut, AS mengingatkan bahwa eskalasi kekerasan dapat memengaruhi stabilitas kawasan. Jika situasi memburuk, negara-negara tetangga juga berpotensi terdampak.

Oleh karena itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan di Iran secara ketat.

Komitmen AS terhadap Hak Asasi

Pada akhirnya, Departemen Luar Negeri AS menegaskan komitmennya untuk terus mengawasi situasi. Mereka menyatakan bahwa penggunaan kekuatan militer terhadap demonstran damai tidak dapat diterima.

Meski tekanan meningkat, rakyat Iran tetap melanjutkan aksi protes. Dengan demikian, ancaman AS menjadi sinyal kuat bahwa isu hak asasi manusia dan keamanan sipil tetap menjadi perhatian utama dunia internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *