AlamDuniaFinansialSosialWisata

Gaza Riviera dan New Gaza: Ambisi Pembangunan vs Kritik Geopolitik

Duniakreasi.id — Pada awal 2026, perdebatan mengenai masa depan Jalur Gaza memuncak. Mantan Presiden AS Donald Trump dan penasihatnya, Jared Kushner, memperkenalkan dua gagasan besar: “Gaza Riviera” dan “New Gaza”. Mereka ingin mengubah Gaza dari wilayah konflik menjadi pusat investasi dan pembangunan. Namun, gagasan ini memicu kritik global.

1. Latar Belakang Gaza

Jalur Gaza telah lama menjadi epicentrum konflik Israel–Palestina. Puluhan perang, blokade, dan krisis kemanusiaan menghancurkan infrastruktur dan kehidupan warga. Setelah konflik mereda, komunitas internasional fokus pada pemulihan. Alih‑alih hanya membangun kembali, Trump dan Kushner menyoroti rencana ambisius yang lebih luas.

2. Gaza Riviera: Pesisir Mewah di Tengah Reruntuhan

Istilah “Gaza Riviera” muncul ketika Trump membayangkan Jalur Gaza sebagai wilayah pesisir Mediterania yang mewah. Ia membandingkannya dengan Riviera di Prancis dan Italia. Konsep ini menekankan investasi asing, hotel mewah, pelabuhan berkelas, dan pusat hiburan modern.

Pendukung rencana ini menilai proyek dapat menciptakan lapangan kerja dan menarik modal internasional. Namun, kritikus menekankan bahwa proyek itu mengabaikan kebutuhan dasar warga Gaza, seperti perumahan layak, air bersih, dan layanan kesehatan.

3. New Gaza: Rencana Rekonstruksi Besar‑besaran

Jared Kushner memperkenalkan proyek “New Gaza” pada forum internasional, termasuk di Davos. Proyek ini bertujuan membangun kawasan industri, area hunian modern, dan jaringan ekonomi baru. Rencana ini menekankan investasi besar dan peluang kerja.

Namun, beberapa pihak menilai rencana itu terlalu fokus pada pasar bebas. Mereka khawatir proyek mengabaikan hak dasar warga, termasuk tanah, budaya, dan kedaulatan.

4. Kontroversi Internasional

Rencana ini memicu beragam kritik. Beberapa sekutu AS meragukan legitimasi Board of Peace, lembaga yang dirancang untuk mengelola proyek. Mereka menyatakan lembaga itu tidak memiliki kredibilitas hukum yang kuat.

Banyak kritikus menuduh proyek memiliki nuansa “kolonial baru”. Mereka khawatir pembangunan fisik lebih penting daripada hak rakyat Palestina. Proyek ini bisa marginalisasi komunitas lokal dan menaikkan harga properti hingga warga tidak mampu membeli.

Akademisi dan tokoh politik menilai pendekatan ini terlalu fokus pada estetika dan keuntungan ekonomi. Mereka menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

5. Tantangan Praktis

Proyek ini menghadapi tantangan besar. Dana besar dibutuhkan untuk membersihkan reruntuhan dan membangun infrastruktur. Keamanan yang rapuh dan politik yang kompleks membuat investor asing berhati‑hati.

Keberhasilan proyek juga tergantung pada penyelesaian masalah politik dan keamanan. Tanpa itu, rencana “New Gaza” berisiko menjadi megastruktur yang tidak relevan bagi warga lokal.

6. Refleksi dan Masa Depan

Debat Gaza Riviera dan New Gaza menyoroti cara berbeda untuk membangun kembali wilayah konflik. Satu sisi menekankan inovasi dan investasi. Sisi lain menekankan hak dasar warga.

Kesimpulannya, proyek besar seperti ini hanya berhasil jika dialog, legitimasi internasional, dan penghormatan terhadap aspirasi lokal dijalankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *