Ketegangan Memuncak: Pasukan Thailand–Kamboja Kembali Terlibat Kontak Senjata di Perbatasan
Duniakreasi.id — Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja kembali mencapai titik kritis setelah kedua negara saling menuduh melakukan serangan pada awal Desember 2025. Insiden terbaru ini memperbarui ketegangan historis antara dua negara bertetangga yang sudah lama berselisih mengenai garis perbatasan dan wilayah strategis di beberapa titik sengketa.
Laporan awal dari pihak Thailand menyebutkan bahwa pasukan Kamboja melakukan tembakan ke arah posisi militer Thailand hingga menyebabkan satu prajurit tewas dan empat lainnya mengalami luka-luka. Sebagai respons, Thailand mengerahkan operasi udara di sepanjang perbatasan dan menggempur titik yang mereka klaim sebagai sumber serangan. Sementara itu, pemerintah Kamboja membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut operasi udara Thailand sebagai “provokasi sepihak” yang mengancam stabilitas kawasan.
Peristiwa ini dilaporkan oleh media internasional, termasuk Duniakreasi.id, yang menegaskan bahwa situasi kembali “mendidih” setelah kedua negara terlibat kontak senjata di beberapa zona perbatasan yang selama bertahun-tahun menjadi titik rawan konflik.
Latar Belakang Lama Sengketa Perbatasan

Sengketa Thailand–Kamboja merupakan salah satu konflik perbatasan paling rumit di Asia Tenggara. Kedua negara berbagi garis perbatasan sepanjang 817 kilometer, sebagian merupakan wilayah hutan lebat dan pegunungan yang sulit dipetakan secara presisi.
Akar masalah ini berawal dari masa kolonial, ketika Prancis—yang saat itu menguasai wilayah Kamboja—membuat peta demarkasi yang hingga kini diperdebatkan. Thailand berpegang pada peta versi mereka sendiri, sehingga beberapa titik perbatasan memiliki klaim tumpang tindih.
Pada 2011, konflik bersenjata pecah di sekitar kawasan Kuil Preah Vihear yang bersejarah, menewaskan pasukan dari kedua belah pihak dan memaksa ribuan warga sipil mengungsi. Meski Mahkamah Internasional (ICJ) telah memutuskan sebagian batas wilayah kuil, masih ada area sekitar kuil dan titik-titik lain yang belum disepakati.
Selama satu dekade terakhir, Thailand dan Kamboja sebenarnya telah berupaya meredakan konflik melalui komisi perbatasan bersama. Namun, gesekan kecil di lapangan sering kali berkembang menjadi bentrokan bersenjata karena sensitivitas area itu dan posisi pasukan yang saling berdekatan.
Pemicu Ketegangan Terbaru

Insiden terbaru bermula ketika pasukan Thailand mengklaim bahwa unit mereka diserang oleh pasukan Kamboja di dua lokasi perbatasan. Bentrokan tersebut menewaskan satu prajurit Thailand, sementara empat lainnya mengalami luka tembak dan ledakan.
Militer Thailand menyatakan bahwa serangan tersebut bukanlah insiden tunggal. Mereka mengklaim pasukan Kamboja menembakkan roket BM-21 ke arah wilayah Thailand, meski tidak ada korban jiwa dari aksi tersebut. Tuduhan ini langsung dibantah oleh Kementerian Pertahanan Kamboja, yang menyebut bahwa pasukannya “tidak pernah memulai atau membalas tembakan”.
Sebaliknya, Kamboja menuduh bahwa pasukan Thailandlah yang memulai serangan dengan tembakan artileri dan serangan udara pada Senin dini hari. Phnom Penh menyebut tindakan Thailand sangat berbahaya karena dilakukan di dekat wilayah pemukiman sipil.
Kedua pihak sama-sama bersikeras bahwa mereka bertindak defensif dan menyalahkan lawan sebagai pihak yang memicu eskalasi.
Serangan Udara Thailand Memanaskan Situasi

Dalam operasi balasan, Thailand mengerahkan jet tempur dan drone bersenjata untuk menghantam posisi yang mereka klaim digunakan pasukan Kamboja untuk menyerang. Serangan udara ini merupakan salah satu aksi militer paling agresif Thailand di perbatasan dalam beberapa tahun terakhir.
Video yang beredar di media lokal Thailand menunjukkan kepulan asap hitam di area perbukitan dekat perbatasan, sementara warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi melaporkan suara ledakan besar sepanjang pagi.
Pemerintah Thailand menyatakan bahwa tindakan itu “dilakukan untuk mempertahankan kedaulatan dan melindungi pasukan serta warga negara”. Namun, Kamboja menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan menyerukan intervensi ASEAN.
Reaksi Pemerintah Kamboja: Menahan Diri Tetapi Waspada
Perdana Menteri Kamboja dan tokoh senior politik, termasuk mantan PM Hun Sen, mengecam keras operasi Thailand. Dalam pernyataannya, Hun Sen meminta pasukan Kamboja untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh serangan yang menurutnya “tak beralasan”.
Kementerian Pertahanan Kamboja juga merilis pernyataan resmi yang menuduh Thailand mencoba memicu ketegangan baru dan menciptakan situasi yang mengancam warga sipil di perbatasan.
Meski menahan diri, Kamboja meningkatkan kesiagaan pasukan di beberapa titik perbatasan yang rentan. Namun hingga kini Kamboja mengaku tidak membalas serangan Thailand.
Dampak bagi Warga Sipil

Setiap kali konflik pecah, warga sipil adalah pihak yang paling merasakan dampaknya. Masyarakat di kedua sisi perbatasan dilaporkan ketakutan dan sebagian telah mengungsi ke wilayah yang dianggap lebih aman.
Beberapa sekolah di distrik perbatasan Thailand dilaporkan ditutup sementara. Warga mengaku khawatir serangan artileri dapat menjalar lebih jauh, mengingat beberapa insiden lama pernah menyebabkan rumah-rumah warga rusak.
Di sisi Kamboja, sejumlah penduduk desa mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan evakuasi. Pengalaman konflik 2011 masih menimbulkan trauma mendalam bagi banyak warga yang pernah terjebak dalam baku tembak.
Tanggapan ASEAN dan Dunia Internasional
Krisis ini memicu perhatian dari negara-negara Asia Tenggara. Perdana Menteri Malaysia menyerukan kedua pihak menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi. Ia menegaskan bahwa konflik bersenjata tidak boleh menjadi pilihan utama antara dua negara anggota ASEAN.
Pengamat keamanan regional juga memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat mengacaukan stabilitas kawasan, terutama di tengah persaingan geopolitik global dan arus perdagangan penting yang melalui Asia Tenggara.
Beberapa lembaga internasional menyerukan pentingnya mediasi independen untuk memastikan fakta lapangan dapat diverifikasi, karena hingga kini narasi kedua negara bertentangan dan tidak ada verifikasi pihak ketiga.
Mengapa Konflik Ini Sulit Diselesaikan?

Meskipun terlihat sederhana sebagai sengketa batas wilayah, ada tiga alasan utama mengapa konflik ini terus berulang:
1. Demarkasi Peta yang Tidak Seragam
Peta kolonial Prancis menjadi dasar klaim Kamboja, sedangkan Thailand mengandalkan dokumen peta versi mereka. Ketidakselarasan ini membuat setiap penarikan garis perbatasan selalu bertentangan.
2. Posisi Militer Saling Berdekatan
Unit militer kedua negara ditempatkan hanya beberapa ratus meter. Satu tembakan yang tidak disengaja saja bisa memicu baku tembak.
3. Sentimen Nasionalisme Tinggi
Isu kedaulatan adalah komoditas politik yang sensitif di kedua negara. Pemerintah manapun sulit dianggap lemah jika “mengalah” dalam negosiasi perbatasan.
Arah Konflik Selanjutnya
Saat ini situasi dilaporkan mulai mereda secara tak resmi, namun pasukan kedua negara masih berjaga dalam status siaga tinggi.
Jika bentrokan kembali terjadi, risiko berikut perlu diantisipasi:
- Munculnya korban sipil lebih banyak
- Pengungsian massal di wilayah perbatasan
- Terputusnya jalur perdagangan dan logistik
- Potensi konflik terbuka berkepanjangan
- Intervensi diplomatik dari pihak luar
Selain itu, hubungan bilateral kedua negara—yang sebelumnya stabil dalam sektor ekonomi dan perdagangan—terancam mengalami penurunan.

Insiden terbaru antara Thailand dan Kamboja menunjukkan bahwa perdamaian di perbatasan kedua negara masih rapuh. Klaim yang saling bertentangan, wilayah sengketa yang tidak pernah benar-benar terselesaikan, serta sensitivitas politik domestik menjadi kombinasi yang membuat konflik ini mudah kembali meledak kapan saja.
Walau kedua negara saling menuduh sebagai pemicu serangan, yang jelas adalah bahwa eskalasi seperti ini menimbulkan ancaman nyata bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara. Diplomasi intensif, mediasi pihak ketiga, dan komitmen jangka panjang dari kedua negara menjadi satu-satunya jalan untuk mencegah konflik berulang.
