Think Tank Eropa: Invasi Iran Justru Akan Merugikan Amerika Serikat
Duniakreasi.id — LONDON – Sebuah lembaga kajian strategis asal Eropa memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambil langkah militer terhadap Iran. Menurut lembaga tersebut, invasi atau serangan berskala besar justru akan membawa kerugian serius bagi kepentingan AS sendiri.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik regional yang terus meluas membuat banyak pihak khawatir akan eskalasi militer terbuka. Dalam laporan terbarunya, para analis menilai Iran bukan target yang mudah ditundukkan.
Think tank tersebut menyebut setidaknya empat faktor utama yang dapat memicu kerugian besar bagi AS jika konflik berubah menjadi invasi langsung.
Iran Memiliki Keunggulan Demografi dan Wilayah
Para analis menilai ukuran Iran menjadi tantangan utama bagi kekuatan militer mana pun. Negara itu memiliki populasi lebih dari 90 juta jiwa. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan Irak saat invasi AS pada 2003.
Wilayah Iran juga sangat luas dan beragam. Pegunungan, gurun, dan dataran tinggi menyulitkan operasi darat. Kondisi geografis ini memberi keuntungan defensif yang signifikan bagi Teheran.
Berbeda dengan konflik sebelumnya, Iran mampu menyebar pertahanan di banyak titik. Situasi ini membuat serangan cepat sulit tercapai. AS berpotensi terjebak dalam konflik panjang dan mahal.
Para analis menilai asumsi kemenangan cepat tidak realistis. Iran memiliki kapasitas bertahan yang kuat dalam jangka panjang.
Kekuatan Militer Iran Belum Dikerahkan Sepenuhnya
Laporan tersebut menyoroti bahwa Iran belum menggunakan seluruh kekuatan militernya. Dalam beberapa konflik regional sebelumnya, Teheran memilih menahan sebagian besar arsenal strategisnya.
Iran memiliki sistem pertahanan udara, rudal jarak menengah, dan teknologi perang asimetris. Negara itu juga menguasai taktik pertahanan berlapis. Strategi ini dirancang untuk menghadapi kekuatan militer superior.
Jika AS melancarkan invasi, Iran diperkirakan akan mengerahkan seluruh kapasitasnya. Langkah ini akan meningkatkan biaya dan risiko bagi pasukan AS.
Think tank Eropa menyebut pendekatan militer terhadap Iran sangat berbeda dibandingkan Irak atau Afghanistan. Kesalahan perhitungan dapat berdampak fatal.
Jaringan Sekutu Regional Siap Terlibat
Iran tidak berdiri sendiri. Negara ini memiliki jaringan sekutu di berbagai wilayah Timur Tengah. Kelompok-kelompok tersebut tersebar di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.
Dalam skenario invasi, sekutu Iran berpotensi menyerang kepentingan AS dan mitranya. Serangan dapat terjadi di banyak titik secara bersamaan. Situasi ini akan memperluas konflik secara drastis.
Para analis menilai keterlibatan aktor regional akan mempersulit strategi AS. Washington harus menghadapi banyak front dalam satu waktu. Kondisi ini berisiko melemahkan fokus militer dan diplomatik AS.
Eskalasi regional juga dapat menarik negara lain ke dalam konflik. Dampaknya akan meluas ke tingkat internasional.
Selat Hormuz Menjadi Titik Tekanan Global
Faktor keempat berkaitan dengan posisi strategis Selat Hormuz. Jalur laut ini menjadi rute utama perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati wilayah tersebut setiap hari.
Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur ini. Penutupan atau gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga minyak. Dampaknya akan terasa di seluruh dunia.
Kenaikan harga energi berpotensi memukul ekonomi global. Amerika Serikat dan sekutunya akan ikut terdampak. Inflasi dan ketidakstabilan pasar bisa meningkat tajam.
Think tank Eropa menilai Selat Hormuz sebagai kartu strategis Iran. Dalam konflik besar, tekanan ekonomi bisa menjadi senjata utama Teheran.
Kerugian Strategis bagi Amerika Serikat
Para analis memperingatkan bahwa invasi Iran tidak hanya menimbulkan kerugian militer. AS juga berisiko kehilangan pengaruh politik di kawasan.
Konflik panjang akan menguras anggaran pertahanan. Tekanan domestik di dalam negeri AS bisa meningkat. Dukungan publik terhadap perang baru juga belum tentu kuat.
Selain itu, fokus AS terhadap isu global lain dapat terganggu. Konflik Iran berpotensi mengalihkan perhatian dari persaingan strategis dengan kekuatan besar lainnya.
Think tank tersebut menilai risiko ini terlalu besar untuk diabaikan.
Dampak Global yang Lebih Luas
Invasi ke Iran juga berpotensi memicu ketidakstabilan global. Negara-negara mitra AS di Eropa dan Asia akan terdampak langsung. Ketergantungan energi membuat banyak negara rentan terhadap gejolak harga.
Selain itu, konflik besar dapat memperburuk krisis kemanusiaan. Gelombang pengungsi baru mungkin muncul. Tekanan terhadap sistem internasional akan meningkat.
Para analis menekankan bahwa dunia saat ini menghadapi terlalu banyak krisis. Konflik tambahan hanya akan memperburuk situasi.
Diplomasi Dinilai Lebih Efektif
Sebagai alternatif, think tank Eropa mendorong pendekatan diplomatik. Dialog dan tekanan politik dinilai lebih rasional dibandingkan konfrontasi militer.
Menurut para analis, negosiasi memberi ruang untuk menekan eskalasi. Pendekatan ini juga mengurangi risiko konflik regional yang lebih luas.
Mereka menilai solusi militer tidak akan memberikan stabilitas jangka panjang. Sejarah konflik di Timur Tengah menjadi pelajaran penting.
Kesimpulan
Think tank Eropa menegaskan bahwa invasi ke Iran membawa risiko besar bagi Amerika Serikat. Empat faktor utama memperkuat kesimpulan tersebut. Faktor itu mencakup ukuran Iran, kekuatan militernya, jaringan sekutu regional, dan posisi Selat Hormuz.
Para analis menyimpulkan bahwa kerugian strategis akan melampaui potensi keuntungan. Oleh karena itu, mereka mendorong AS untuk mengutamakan diplomasi dan deeskalasi.
Langkah tersebut dinilai lebih aman bagi stabilitas regional dan global.
