Purbaya Tegaskan Ancaman Rumahkan 16 Ribu Pegawai Bea Cukai Bukan Idenya
Ancaman rumahkan 16 ribu pegawai Bea Cukai kembali menjadi sorotan publik setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan klarifikasi terbuka. Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan berasal dari inisiatif pribadi. Sebalikiknya, ia menjalankan perintah atasan sebagai bentuk tekanan agar reformasi berjalan cepat dan terukur.
Purbaya menekankan bahwa pemerintah tidak berniat mengorbankan pegawai. Ia justru ingin mendorong perubahan nyata di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) agar kinerja dan pengawasan membaik secara menyeluruh.
Purbaya Jelaskan Latar Ancaman Rumahkan 16 Ribu Pegawai Bea Cukai
Purbaya menyampaikan pernyataan itu dalam sebuah forum resmi bersama kepala daerah dan pemangku kepentingan. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti banyaknya keluhan terkait pelayanan kepabeanan.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah memberi waktu satu tahun kepada DJBC untuk membenahi sistem kerja. Jika instansi gagal menunjukkan perbaikan signifikan, pemerintah akan mengambil langkah tegas.
Menurut Purbaya, ancaman tersebut berfungsi sebagai peringatan keras. Ia ingin seluruh jajaran memahami bahwa negara menuntut hasil, bukan janji.
Temuan Lapangan Picu Tekanan Reformasi
Dalam beberapa inspeksi lapangan, Purbaya menemukan banyak kejanggalan. Ia menjumpai kasus barang impor bernilai rendah di dokumen, tetapi memiliki harga pasar jauh lebih tinggi.
Temuan tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan dan potensi kebocoran penerimaan negara. Karena itu, Purbaya menilai reformasi tidak bisa ditunda.
Ia menyatakan bahwa negara kehilangan penerimaan jika sistem terus dibiarkan longgar. Oleh sebab itu, pemerintah memilih jalur tekanan agar perubahan berjalan cepat.
Purbaya Tegaskan Tujuan Bukan Memecat Pegawai
Purbaya menolak anggapan bahwa pemerintah ingin memecat massal pegawai Bea Cukai. Ia menegaskan fokus utama terletak pada perbaikan sistem, bukan hukuman personal.
Ia meminta para pegawai bekerja profesional, jujur, dan disiplin. Menurutnya, pegawai yang bekerja dengan baik tidak perlu merasa terancam.
Purbaya juga menekankan bahwa ancaman tersebut bersifat preventif. Pemerintah ingin mencegah kerugian negara yang lebih besar di masa depan.
Dirjen Bea Cukai Respons Tekanan Pemerintah
Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama, merespons pernyataan Purbaya dengan sikap terbuka. Ia mengakui bahwa instansinya memang membutuhkan pembenahan serius.
Djaka menyatakan seluruh jajaran siap bekerja keras selama masa evaluasi satu tahun. Ia menyebut reformasi akan menyentuh pengawasan pelabuhan, pelayanan impor, serta budaya kerja internal.
Menurut Djaka, tekanan dari pimpinan justru memperjelas arah perubahan. Ia meminta pegawai menjadikan momentum ini sebagai peluang memperbaiki citra institusi.
Sorotan Dunia Usaha terhadap Bea Cukai
Pelaku usaha menyambut baik tekanan reformasi tersebut. Selama ini, banyak pengusaha mengeluhkan lambatnya proses kepabeanan dan biaya logistik yang tinggi.
Mereka menilai reformasi Bea Cukai akan berdampak langsung pada iklim investasi. Sistem yang transparan dan cepat akan meningkatkan daya saing nasional.
Sejumlah asosiasi bisnis berharap pemerintah konsisten mengawal reformasi hingga tuntas, bukan sekadar wacana.
Pemerintah Siapkan Opsi Jika Evaluasi Gagal

Pemerintah tidak hanya mengandalkan ancaman. Kementerian PANRB menyiapkan opsi penataan pegawai jika DJBC gagal memenuhi target.
Pemerintah mempertimbangkan mutasi dan rotasi pegawai agar pelayanan publik tetap berjalan. Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas birokrasi tanpa mengorbankan fungsi negara.
Namun, pemerintah berharap opsi ini tidak perlu dijalankan jika reformasi berhasil.
Sejarah Jadi Peringatan bagi Bea Cukai
Purbaya juga mengingatkan sejarah kelam Bea Cukai pada masa lalu. Saat itu, pemerintah pernah menyerahkan fungsi pengawasan kepada pihak asing karena lemahnya kinerja internal.
Ia menegaskan pemerintah tidak ingin mengulang kesalahan tersebut. Oleh karena itu, ia memilih mendorong perbaikan dari dalam institusi.
Menurutnya, DJBC masih memiliki sumber daya besar untuk berubah jika semua pihak mau bekerja serius.
Teknologi Jadi Kunci Reformasi
Purbaya mendorong pemanfaatan teknologi untuk menutup celah penyimpangan. Pemerintah mulai mengembangkan sistem berbasis data untuk mendeteksi manipulasi nilai barang.
Teknologi tersebut akan membantu petugas bekerja lebih akurat dan cepat. Selain itu, sistem digital akan memperkecil ruang intervensi manual.
Purbaya menilai modernisasi sistem sebagai kunci keberhasilan reformasi Bea Cukai.
Kesimpulan
Ancaman rumahkan 16 ribu pegawai Bea Cukai bukan gagasan pribadi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, melainkan bentuk tekanan struktural dari pimpinan negara. Pemerintah memberi waktu satu tahun untuk membuktikan perubahan nyata di DJBC.
Purbaya menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah reformasi, bukan pemecatan massal. Pemerintah ingin membangun Bea Cukai yang profesional, transparan, dan berintegritas demi menjaga penerimaan negara dan kepercayaan publik.
