HiburanKreasiNasionalSosial

Kubu Ressa Rizky Rossano Akui Sulit Hubungi Denada karena Diblokir, Komunikasi Masih Buntu

duniakreasi.id – Jakarta – Perseteruan hukum antara Ressa Rizky Rossano dan Denada kembali memanas. Pihak Ressa mengungkapkan bahwa mereka tidak bisa menjalin komunikasi dengan Denada karena nomor dan akses kontak mereka diblokir. Kondisi ini membuat upaya penyelesaian secara damai semakin sulit, meskipun kubu Ressa telah membuka pintu dialog.

Kuasa hukum Ressa, Andika Meigista Cahya, menyatakan bahwa kliennya sebenarnya ingin menyelesaikan konflik ini melalui komunikasi langsung. Namun hingga kini, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena tidak ada jalur komunikasi yang bisa diakses.

Menurut Andika, pemblokiran tersebut terjadi bukan hanya pada kontak pribadi, tetapi juga membuat komunikasi melalui jalur informal lain ikut terhambat. Situasi ini memaksa Ressa melanjutkan proses hukum melalui pengadilan.


Upaya Damai Terhambat Sejak Awal

Ressa Rizky Rossano mengaku telah mencoba membuka dialog dengan Denada sejak awal proses hukum berjalan. Ia berharap bisa berbicara sebagai anak dan ibu tanpa harus melibatkan banyak pihak. Namun, pemblokiran komunikasi membuat semua niat tersebut gagal.

“Kami sebenarnya ingin berdiskusi secara baik-baik, tanpa harus ribut di ruang sidang. Tapi ketika semua akses komunikasi ditutup, kami tidak punya pilihan lain selain melanjutkan perkara ini,” kata Andika.

Kondisi ini mempertegas bahwa konflik mereka bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan relasi keluarga.


Pintu Komunikasi Dibuka, Tapi Tak Pernah Terjawab

Kubu Ressa menegaskan bahwa mereka tidak pernah menutup diri untuk berdialog. Mereka bahkan siap bertemu langsung dengan Denada kapan pun jika komunikasi bisa kembali terbuka.

Namun hingga kini, tidak ada satu pun sinyal dari pihak Denada yang menunjukkan keinginan untuk berdiskusi di luar ruang sidang. Andika menyebut bahwa bahkan melalui kuasa hukum, respons yang mereka terima tetap minim.

Situasi ini membuat proses mediasi yang seharusnya menjadi ruang mencari titik temu menjadi tidak efektif.


Ressa Menuntut Kepastian Hukum

Bagi Ressa, perkara ini bukan hanya tentang konflik pribadi, tetapi juga menyangkut hak dan pengakuan secara hukum. Ia menginginkan pengakuan resmi dan tertulis sebagai anak Denada agar posisinya jelas di mata hukum.

Menurut kuasa hukumnya, pengakuan lisan tidak cukup. Mereka membutuhkan dokumen resmi yang memiliki kekuatan hukum agar semua hak Ressa terlindungi secara sah.

“Kami tidak hanya bicara soal hubungan keluarga, tapi juga soal kepastian hukum,” ujar Andika.


Mediasi Gagal, Gugatan Tetap Berjalan

Proses mediasi antara kedua belah pihak telah berlangsung beberapa kali. Namun semua upaya itu berakhir tanpa kesepakatan. Salah satu penyebab utama kegagalan mediasi adalah ketidakhadiran Denada secara langsung dalam beberapa pertemuan penting.

Akibatnya, majelis hakim memutuskan untuk melanjutkan perkara ke tahap pembacaan gugatan dan pemeriksaan pokok perkara.

Ressa menilai bahwa proses hukum kini menjadi satu-satunya jalan untuk mendapatkan kejelasan status dan haknya sebagai anak.


Tuntutan dan Perbedaan Versi

Dalam gugatannya, Ressa menuding Denada melakukan penelantaran anak. Ia juga mengajukan tuntutan ganti rugi yang nilainya cukup besar. Di sisi lain, pihak Denada membantah tudingan tersebut dan menyebut telah memberikan dukungan finansial kepada Ressa selama ini.

Perbedaan versi ini membuat publik terbelah. Sebagian orang menilai Ressa berjuang untuk haknya, sementara yang lain menilai Denada telah menjalankan perannya sebagai ibu.

Namun, tanpa komunikasi langsung antara keduanya, semua perbedaan itu sulit menemukan titik temu.


Sorotan Publik dan Reaksi Tokoh

Kasus ini tidak hanya menarik perhatian media, tetapi juga memicu perdebatan di kalangan publik dan figur terkenal. Beberapa tokoh publik ikut memberikan pandangan mereka mengenai hubungan ibu dan anak serta aspek hukum dari perkara ini.

Meski demikian, banyak pihak menilai bahwa yang paling penting bukan siapa yang benar atau salah di mata publik, melainkan bagaimana kedua pihak bisa menemukan solusi terbaik secara manusiawi dan bermartabat.


Masalah Komunikasi Jadi Akar Konflik

Jika ditarik ke akar masalah, konflik ini tidak hanya tentang uang atau tuntutan hukum, tetapi juga tentang putusnya komunikasi antara seorang anak dan ibunya.

Pemblokiran kontak menjadi simbol nyata dari terhentinya dialog. Selama kondisi ini terus berlangsung, peluang untuk rekonsiliasi atau penyelesaian damai akan semakin kecil.


Kesimpulan

Kasus Ressa Rizky Rossano dan Denada kini memasuki fase krusial. Pemblokiran komunikasi telah menutup jalur dialog, membuat proses hukum menjadi satu-satunya jalan yang tersisa.

Di tengah proses persidangan yang terus berjalan, publik masih menunggu apakah akan muncul itikad baik dari kedua belah pihak untuk kembali membuka komunikasi dan menyelesaikan konflik ini secara lebih manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *