Kubu Gus Yahya Minta Klarifikasi Usai Nama Zulfa Mustofa Disebut sebagai PJ Ketua Umum PBNU — Reaksi, Kontroversi, dan Proses Selanjutnya
Duniakreasi.id — Kubu Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya buka suara soal pencopotan dan penggantian dari pucuk kepemimpinan Tanfidziyah atau kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Isu pergantian pimpinan di organisasi besar keagamaan di Indonesia kembali mencuat menyusul kabar bahwa Zulfa Mustofa dikabarkan ditunjuk sebagai Penjabat (PJ) Ketua Umum PBNU. Berita ini segera memancing respons dari kubu Gus Yahya — yang selama ini menjabat Ketua Umum PBNU — dan memunculkan pertanyaan dari sejumlah pihak terkait legitimasi penunjukan, prosedur organisasi, serta dampak pada stabilitas internal PBNU.
Kabar itu pertama kali beredar kuat melalui pemberitaan daring pada Selasa malam (9 Desember 2025). Sejumlah media menulis bahwa nama Zulfa Mustofa masuk dalam daftar calon PJ Ketum PBNU, memicu diskusi luas di kalangan internal dan eksternal.
Namun demikian, kubu Gus Yahya menyatakan belum ada keputusan resmi mengenai penggantian kepemimpinan. Mereka meminta klarifikasi lebih lanjut — terutama soal mekanisme dan legitimasi proses penunjukan. Artikel ini merangkum fakta, reaksi, dan skenario ke depan dari dinamika ini.
Apa Kata Kubu Gus Yahya?

Menurut pernyataan resmi dari tim Gus Yahya, hingga saat ini tidak ada rapat formal PBNU yang memutuskan pergantian Ketua Umum. Oleh sebab itu, informasi bahwa Zulfa Mustofa akan menjadi PJ dianggap prematur dan bisa menimbulkan kebingungan di tengah anggota dan masyarakat.
Lebih lanjut, kubu ini mendesak agar media dan publik menahan diri sampai ada konfirmasi resmi dari dewan syuro atau lembaga internal PBNU yang berwenang. Mereka khawatir “isu dalam” tersebut bisa disalahartikan, memecah belah organisasi, dan mempengaruhi citra lembaga. Pernyataan ini diunggah melalui saluran resmi organisasi dan disebarluaskan kepada wartawan terkait.
Siapa Zulfa Mustofa — dan Kenapa Namanya Muncul?
Zulfa Mustofa diketahui sebagai tokoh keagamaan yang aktif dalam organisasi dan komunitas Muslim di Indonesia. Munculnya namanya sebagai kandidat PJ Ketua Umum PBNU mengejutkan sebagian kalangan, karena sosoknya belum dikenal luas di lingkaran elit PBNU nasional.
Pihak yang mendukung usulan itu menilai bahwa PBNU butuh penyegaran — generasi baru, pemikiran progresif, dan representasi yang lebih luas dari kalangan umat muda atau aktivis. Nama Zulfa dianggap mampu mewakili semangat demikian. Namun, muncul pula banyak pertanyaan: apakah prosedur pencalonan sudah sesuai azas organisasi, apakah mendapat dukungan mayoritas, dan bagaimana pandangan santri/tradisionalisme PBNU terhadap sosok luar arus utama seperti Zulfa.
Kontroversi & Prosedur Internal: Apa Aturan PBNU?
Menurut aturan internal organisasi — seperti Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) — pengangkatan Ketum baru harus melalui Muktamar atau forum resmi yang melibatkan dewan syuro serta perwakilan dari wilayah. PJ hanya dibutuhkan dalam kondisi tertentu — seperti Ketum berhenti secara mendadak atau tidak bisa menjalankan tugas — dan pun harus disepakati melalui mekanisme internal.
Karena belum ada penjelasan resmi bahwa kondisi itu terpenuhi, banyak kalangan memandang penunjukan Zulfa sebagai langkah debat jauh sebelum waktunya. Hal ini bisa membuka konflik internal, terutama jika ada anggota yang merasa prosedur diabaikan.
Dalam wawancara dengan media, sejumlah kiai dan tokoh senior PBNU menyampaikan kekhawatiran bahwa keputusan sepihak — jika terjadi — bisa melemahkan legitimasi lembaga, memecah konsensus, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap PBNU.
Reaksi Publik & Isu Legitimasi
Munculnya nama Zulfa dan pernyataan kubu Gus Yahya memicu perdebatan di media sosial dan kalangan akademik: ada yang mendukung perubahan struktur dan regenerasi, ada pula yang meminta agar segala perubahan tetap melalui mekanisme resmi dan menjaga tradisi organisasi.
Sejumlah komentator menyebut bahwa isu ini mencerminkan ketidakpastian — bukan hanya di PBNU, tetapi di banyak organisasi keagamaan — terkait regenerasi kepemimpinan dan bagaimana menyeimbangkan tradisi dengan tuntutan zaman.
Beberapa anggota muda PBNU yang dihubungi secara anonim menyatakan keinginan untuk modernisasi, keterbukaan terhadap generasi baru, serta transparansi dalam proses pemilihan. Namun mereka juga menekankan pentingnya konsensus, musyawarah, serta penghormatan terhadap nilai dan struktur lama.
Potensi Dampak Bila Proses Ini Tidak Ditangani Dengan Baik
Jika konflik internal — atas dasar penunjukan PJ atau perdebatan legitimasi — tidak dikelola secara baik, bisa muncul sejumlah risiko:
- Krisis kepercayaan anggota terhadap pengurus — terutama jika dianggap menjauh dari AD/ART atau tradisi organisasi.
- Dualisme kepemimpinan — bisa terjadi jika ada pihak yang menerima penunjukan, dan pihak lain menolak.
- Pecahnya struktur organisasi di tingkat akar rumput — cabang atau wilayah bisa terpecah loyalitas.
- Penurunan wibawa lembaga di mata publik — jika konflik terbuka, PBNU bisa dianggap lemah dalam mengambil keputusan internal.
Terlebih di tengah situasi sosial-politik Indonesia yang dinamis, stabilitas organisasi keagamaan besar seperti PBNU penting untuk menjaga kerukunan, dialog, dan moderasi.
Skenario Ke Depan: Apa yang Mungkin Terjadi
Bergantung pada bagaimana pihak PBNU mengelola isu ini, ada beberapa kemungkinan:
- Pembicaraan internal & klarifikasi resmi
— Dewan syuro atau lembaga berwenang akan memanggil pihak terkait, membahas isu penunjukan, menentukan apakah perlu forum resmi seperti Muktamar atau rapat luar biasa. - Penolakan dan penegasan posisi Gus Yahya tetap Ketum
— Jika banyak anggota menolak penunjukan Zulfa atau menilai proses tidak sah, maka Gus Yahya kemungkinan tetap sebagai Ketum hingga periode habis. - Regenerasi resmi sesuai AD/ART
— Bila memang sampai masa kepengurusan habis, PBNU bisa mempersiapkan kongres/pemilihan sesuai prosedur, dengan calon dari kalangan tradisional atau generasi baru. - Pergeseran paradigma dalam kepemimpinan
— Jika generasi muda mendapat dukungan, PBNU bisa mengalami transformasi: lebih inklusif, dinamis, dan relevan dengan isu kontemporer (digitalisasi, dialog keagamaan, moderasi).
Mengapa Isu Ini Penting — Bukan Hanya bagi PBNU
PBNU adalah salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, dengan jutaan anggota dan pengaruh signifikan dalam masyarakat — dari pendidikan, dakwah, hingga kebijakan sosial. Karena itu:
- Setiap perubahan dalam struktur kepemimpinan akan berdampak luas — bukan hanya dalam internal, tetapi juga citra agama dan moderasi di masyarakat.
- Proses demokrasi internal organisasi keagamaan bisa menjadi contoh bagi lembaga lain — bagaimana menjaga tradisi, akuntabilitas, dan regenerasi secara sehat.
- Stabilitas dan kredibilitas PBNU penting untuk menjaga harmoni pluralitas di Indonesia. Konflik internal bisa memancing polarisasi di masyarakat.
Kesimpulan
Kabar bahwa Zulfa Mustofa ditunjuk sebagai PJ Ketua Umum PBNU telah memancing reaksi dari kubu Gus Yahya, yang menyatakan bahwa belum ada keputusan resmi dan meminta klarifikasi lebih lanjut. Situasi ini membuka perdebatan seputar legitimasi prosedur internal, regenerasi kepemimpinan, serta tantangan modernisasi dalam organisasi besar.
Meski keinginan untuk pembaruan dan keterlibatan generasi muda penting, proses perubahan harus dijalankan dengan transparansi, musyawarah, dan sesuai aturan — agar integritas dan kepercayaan terhadap PBNU tetap terjaga.
Publik dan anggota PBNU saat ini menunggu keputusan resmi: apakah akan ada forum resmi yang memutuskan — ataukah isu ini akan mereda dan struktur lama tetap bertahan. Dalam banyak hal, hasilnya akan menjadi indikator bagaimana organisasi keagamaan besar di Indonesia menghadapi tantangan zaman — antara tradisi, modernisasi, dan aspirasi generasi baru.
