Jakarta dan New York Punya Masalah Banjir, Pramono Tukar Pengalaman dengan Mamdani
Duniakreasi.id – Pramono dan Mamdani Bahas Banjir Jakarta-New York, Tukar Pengalaman soal Kota Besar
NEW YORK – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bertemu dengan Wali Kota New York Zohran Kwame Mamdani dalam pertemuan bilateral di Civic Hall, New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda Pramono di New York dalam kegiatan Urban 20 (U20) Mayors Summit 2026. Dalam pertemuan bilateral itu, kedua pemimpin membicarakan sejumlah persoalan yang dihadapi kota besar, mulai dari transportasi publik, banjir, polusi udara, hingga pembiayaan pembangunan infrastruktur.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian adalah persoalan banjir. Jakarta dan New York sama-sama menghadapi tantangan pengelolaan air dan ketahanan kota, meskipun karakter geografis serta kondisi masing-masing wilayah berbeda.
Pramono memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menjelaskan berbagai langkah yang sedang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadapi persoalan banjir dan penurunan muka tanah.
Pramono Paparkan Strategi Jakarta Tangani Banjir
Dalam pertemuan dengan Mamdani, Pramono menjelaskan bahwa pengendalian banjir menjadi salah satu tantangan utama yang harus terus ditangani Jakarta.
Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah pendekatan, termasuk penguatan infrastruktur pengendalian banjir. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berupaya mengurangi penggunaan air tanah sebagai bagian dari langkah untuk menekan dampak penurunan muka tanah atau land subsidence.
Selain itu, Jakarta juga terus mengembangkan konsep Giant Sea Wall sebagai bagian dari strategi perlindungan kawasan pesisir.
Menurut Pramono, pengalaman kota-kota besar lain dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan untuk mencari solusi terhadap persoalan perkotaan. Karena itu, pertemuan dengan Pemerintah Kota New York menjadi salah satu forum untuk membicarakan pendekatan yang digunakan masing-masing kota.
Pembahasan mengenai banjir tidak berdiri sendiri. Persoalan tersebut berkaitan dengan berbagai aspek lain, seperti tata kelola air, perubahan iklim, perlindungan wilayah pesisir, serta pembangunan infrastruktur.
Pemprov DKI sebelumnya menyebut agenda U20 di New York menjadi kesempatan bagi Jakarta untuk memperkuat kerja sama antarkota sekaligus membawa pulang pengetahuan dan kemitraan yang dapat diterapkan dalam peningkatan pelayanan publik.
Transportasi Publik Jadi Pembahasan
Selain banjir, Pramono dan Mamdani juga membahas transportasi publik.
Mamdani menggali informasi mengenai strategi Jakarta dalam menangani kemacetan dan meningkatkan konektivitas transportasi. Pramono kemudian menjelaskan pengembangan Transjabodetabek sebagai salah satu langkah untuk memperkuat hubungan antara Jakarta dan wilayah penyangga.
Menurut Pramono, mobilitas masyarakat menuju dan meninggalkan Jakarta sangat tinggi, terutama pada jam sibuk. Ia menyebut lebih dari empat juta orang keluar-masuk Jakarta setiap hari.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap transportasi publik yang terintegrasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan kawasan metropolitan.
Pengembangan Transjabodetabek diarahkan untuk meningkatkan konektivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Pemerintah DKI berharap peningkatan layanan angkutan umum dapat membantu menekan jumlah kendaraan yang masuk ke wilayah Jakarta.
Selain perluasan konektivitas, Pramono juga menjelaskan kebijakan transportasi umum gratis bagi 15 kelompok masyarakat.
Kelompok yang mendapatkan layanan tersebut antara lain lanjut usia, penyandang disabilitas, pelajar penerima KJP, serta mahasiswa penerima KJMU.
Jakarta dan New York Hadapi Tantangan Perkotaan
Pertemuan Pramono dan Mamdani menunjukkan bahwa persoalan kota besar tidak hanya berkaitan dengan satu sektor.
Pertumbuhan penduduk, mobilitas harian, kebutuhan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, dan pembiayaan pembangunan menjadi tantangan yang saling berkaitan.
Jakarta memiliki karakter sebagai kawasan metropolitan dengan mobilitas tinggi dari daerah penyangga. Sementara itu, New York juga menghadapi kebutuhan besar terhadap transportasi publik, infrastruktur, pengelolaan lingkungan, dan layanan perkotaan.
Karena itu, pertukaran pengalaman antara kedua pemerintah kota diarahkan pada persoalan yang bersifat praktis. Masing-masing pihak dapat menyampaikan kebijakan yang telah diterapkan sekaligus melihat kemungkinan pendekatan yang dapat dikembangkan melalui kerja sama antarkota.
Dalam agenda U20, sejumlah persoalan perkotaan memang menjadi perhatian, termasuk keterjangkauan perumahan, perubahan iklim, mobilitas masyarakat, serta kesempatan ekonomi. Pramono hadir di New York setelah menerima undangan dari Mamdani untuk mengikuti forum tersebut.
New York Tawarkan Pengalaman soal Obligasi Daerah
Pembicaraan Pramono dan Mamdani tidak hanya menyentuh persoalan lingkungan dan transportasi. Keduanya juga membahas rencana Jakarta menggunakan obligasi daerah atau Jakarta Bond sebagai salah satu skema pembiayaan pembangunan infrastruktur.
Mamdani menyambut rencana tersebut dan menawarkan pertukaran pengetahuan antara tim keuangan New York dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
New York diketahui memiliki pengalaman menggunakan obligasi untuk membiayai berbagai proyek publik, termasuk infrastruktur, pengolahan limbah, serta fasilitas umum. Pengalaman tersebut kemudian ditawarkan sebagai bahan pembelajaran bagi Jakarta dalam mempersiapkan penerbitan obligasi daerah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri disebut tengah menyiapkan rencana penerbitan obligasi daerah senilai Rp5,6 triliun pada 2027 untuk mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur. Salah satu penggunaan yang disebutkan adalah pengembangan transportasi publik.
Tawaran kerja sama dari New York tersebut mencakup berbagi pengalaman mengenai persiapan hingga proses penerbitan obligasi daerah.
Dengan adanya pertukaran pengetahuan tersebut, pembahasan kerja sama Jakarta-New York tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pelayanan publik, tetapi juga menyentuh aspek pembiayaan pembangunan.
Pengelolaan Kota Jadi Fokus Kerja Sama
Pertemuan bilateral Pramono dan Mamdani berlangsung dalam konteks kerja sama antarkota yang lebih luas.
Sebelum pertemuan tersebut, Pemprov DKI menyampaikan bahwa sejumlah sektor berpotensi menjadi ruang kerja sama Jakarta dan New York. Di antaranya transportasi publik dan udara bersih, pengelolaan air dan ketahanan pesisir, pengelolaan sampah, serta keterjangkauan harga pangan.
Dengan cakupan pembahasan yang cukup luas, kedua pemerintah kota memiliki sejumlah isu yang dapat menjadi bahan pertukaran pengalaman.
Bagi Jakarta, persoalan banjir dan penurunan muka tanah merupakan tantangan yang membutuhkan kebijakan lintas sektor. Infrastruktur pengendalian banjir harus berjalan bersamaan dengan pengelolaan air tanah dan perlindungan kawasan pesisir.
Sementara itu, pengembangan transportasi publik berkaitan dengan kebutuhan mengelola pergerakan jutaan orang setiap hari.
Pertemuan Berpeluang Dilanjutkan
Pertemuan di Civic Hall tersebut membuka peluang bagi Jakarta dan New York untuk melanjutkan pertukaran pengetahuan dalam sejumlah sektor.
Dalam bidang pembiayaan, Pemerintah Kota New York menawarkan keterlibatan tim keuangannya untuk berbagi pengalaman mengenai obligasi daerah. Sementara dalam sektor transportasi dan lingkungan, kedua pihak juga memiliki ruang untuk bertukar informasi mengenai kebijakan yang telah diterapkan.
Bagi Jakarta, pengalaman kota besar lain dapat menjadi salah satu referensi dalam menghadapi persoalan perkotaan yang terus berkembang. Namun, penerapan sebuah kebijakan tetap perlu mempertimbangkan kondisi geografis, kebutuhan masyarakat, aturan, serta kapasitas pemerintah daerah masing-masing.
Pertemuan Pramono dan Mamdani dengan demikian menjadi bagian dari agenda kerja sama antarkota yang membahas berbagai kebutuhan pengelolaan metropolitan.
Isu banjir menjadi salah satu pembahasan penting karena Jakarta dan New York sama-sama harus mempersiapkan kota menghadapi tantangan lingkungan dan perubahan kondisi perkotaan.
Selain banjir, transportasi publik, polusi udara, pengelolaan air, dan pembiayaan infrastruktur juga menjadi bagian dari percakapan kedua pemimpin.
Pertemuan tersebut diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pertukaran pengetahuan dan kerja sama teknis sehingga pembahasan antarkota tidak berhenti pada forum pertemuan, tetapi dapat berkembang menjadi program yang relevan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

